Catatan Kecil Menjelang Usia Ke Empat

empat20140405_180401

Kemarin dapat laporan dari Uminya Aliya di sekolah. Katanya ada satu buku latihan yang diganti. Itu buku TK A. Jadi buku latihan menulis angka untuk anak Paud punya Aliya sudah habis padahal teman-temannya masih banyak yang belum dikerjakan. Ah anak itu kalau sudah menulis apapun saja, susah berhentinya. Saya sudah hapal sama Aliya. Iyalah, sayakan ibunya hehehe. Padahal, kata Uminya lagi, itu buku sudah dihapus untuk kemudian dikerjakan lagi sama Aliya tapi kemarin Aliya malah protes, bilang begini

“Umi, aku nggak mau kerjain yang ini lagi. Kan udah aku kerjain tuh sampe abis. Ganti dong bukunya.” Pinta Aliya.

Akhirnya Umi pun mengganti buku Aliya dengan buku latihan menulis angka untuk anak TK A. Untuk pembayaran bukunya boleh bulan depan. Saya memutuskan untuk bayar bulan depan sekalian bayar seragam olah raga juga hihihi. Maklum tanggung bulan. Memang ya kalau anak sudah masuk sekolah harus siap-siap dana cadangan. Banyak dana pendidikan yang tiba-tiba wajib keluar demi keberlangsungan proses belajar mengajar. Tidak, saya tidak protes sama pihak sekolah tentang dana yang harus dikeluarkan tiba-tiba, karena saya juga menitipkan anak di sekolah untuk dididik menjadi manusia yang berakhlak dan bermanfaat. Saya juga pernah jadi guru jadi bisa memahami apapun kebijakan sekolah. Insya Allah.

Saya bahagia dan bangga Aliya belum empat tahun tapi punya semangat untuk terus belajar. Belajar dengan caranya sendiri. Saya tidak pernah memaksanya untuk masuk sekolah apalagi mengerjakan PR. Hanya menawarkan dan mengingatkan saja kalau PRnya belum dikerjakan. Perkara dia mau mengerjakan atau tidak, yaa terserah dia. Belakangan memang anaknya lagi nggak mau kerjain PR. Dia lebih asik menulis dan main bongkar pasang. Tapi kadang saat menjelang tidur, Aliya malah mau bikin PR heuheuheu… Anak pinter. Modusnya itu loh biar nggak disuruh tidur :p

Tiba-tiba saja terbesit keinginan saya untuk meminta sama Umi biar semester depan Aliya dinaikin ke TK A aja kan usianya juga sudah 4 tahun. Tapi nggak tahu Uminya setuju apa nggak dengan permintaan saya. Hanya saja saya ditegur sama mama. Biarkan berjalan apa adanya. Sesuai usia dan kematangannya. Makanya pengen konsul banyak nih ke Umi. Obsesi emak yee nggak bisa dihalangi. Tapi sekali lagi saya akan terima seandainya Umi nggak setuju dengan usul saya. Sekali lagi, ini tentang kematangan bukan sekedar obsesi emak.

Dulu seusia Aliya, saya belum sekolah, belum tahu huruf. Masih hobi bikin rusuh rumah dan guntingin apa yang menarik untuk digunting termasuk rambut sendiri. Dulu seusia Aliya, saya juga hobi dimarahin mama dan bolak-balik ke dokter karena saya sakit-sakitan. Sekarang Aliya beruntung punya emak yang lebih sabar n jarang marah-marah, membebaskan Aliya mau ngapain aja di rumah asal nggak bahaya, bebas main air di waktu libur sekolahnya, dan sudah bisa mengerti bahwa bunda nggak ada yang bantuin jadi setiap main Aliya dengan kesadarannya membereskan mainannya sendiri. Alhamdulillah sampai sekarang Aliya tumbuh dengan sehat, kalaupun sakit juga cukup dikasih obat yang distok bunda dan sembuh.

Walau masih cengeng dan rewel, kadang saya sampai dipukul dan dilemparin mainan kalau ada keinginannya yang nggak bisa saya penuhi tapi dia nggak pelit sama teman-temannya. Selalu berbagi, selalu menawarkan apa yang dia punya. Satu hal, dia belum berani untuk minta maaf kalau dia melakukan kesalahan. Ini yang sedang saya tanamkan. Sulit. Aliya pemalu dan suka gengsi.

Aliya itu sosok anak yang kuat. Kenapa? Suatu hari dia cerita kalau kejedut di sekolah sama temannya. Saya mendengarkan sambil lalu saja. Tapi ketika saya sedang keramasin rambutnya, Aliya tiba-tiba ribut sakit di kepala.

“Aku kebenjolan bun. Kan tadi aku bilang kalau aku abis kejedut sama teman aku.” Ucapnya.

Ya Allah saya kurang peka. Hiks maaf ya. Saat saya periksa, benar ada bagian yang benjol di kepala.

“Sakit nggak?” tanya saya.

“Sakit bun. Makanya jangan dikeramasin bagian yang ini ya.” Pintanya.

Saya pun mengangguk. “Yaudah abis mandi nanti pake minya tawon ya, Kak. Eh tapi pas kebenjolan tadi di sekolah, kakak nangis nggak?”

“Nggak. Aku sama temen malah ketawa hahaha.”

Mendengarnya saya merasa makin bersalah. Mungkin terlalu lebay tapi perasaan itulah yang saya rasakan ketika Aliya menertawakan kejadiannya. Soalnya kalau di rumah dia kebenjolan gitu, pasti nangis kejer.

“Maaf ya bunda nggak tau.”

“Nggak apa-apa.” Jawabnya dewasa.

Saya tersenyum dan diam-diam menitikan air mata. Ah nak ternyata nggak terasa kamu memang akan beranjak besar dan menjadi pribadi yang entah bagaimana. Yang pasti bunda selalu berdoa biar kamu menjadi anak sholehah, dewasa, bermanfaat bagi orang banyak, berakhlak mulia. Kamu kebanggaan kami, nak. Ayah dan bunda. Rasa sayang kami nggak akan pernah habis sampai kapan pun. Walau bagaimana pun kamu kelak, nak tetaplah menjadi kesayangan kami.

Beberapa hari lagi Ayah ulang tahun yang ke 41, usia yang tak lagi muda nak tapi cukup matang untuk menjaga kami dan terus menjadi iman kamu lalu bulan depan kamu akan berusia 4 tahun, usia yang masih terlalu sebentar untuk hidup. Bunda berharap kamu akan tetap ada di dunia ini selama mungkin, mewarnai kehidupan kami dengan apa-apa yang ada pada dirimu. Allah, terima kasih atas Aliya. Hanya itu yang bisa saya ucapkan. Tentu saja saya nggak berhenti berdoa untuk kebaikan keluarga kecil kami.

Advertisements

2 thoughts on “Catatan Kecil Menjelang Usia Ke Empat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s