I Love MyLife (Ikhlas, Syukur, dan Bahagia)

Kira-kira sebelum bulan puasa kemarin si Ayah kasih tahu bahwa dia ditagih duit penerbitan antologi puisi bersama sebesar sekian. Reaksi saya jelas kaget, duit sebanyak itu jujur besar buat saya pribadi apalagi nggak bakal ada cash back atau apalah namanya. Maksudnya nggak bakal balik modal. Saya sebal, kenapa dari awal ayah nggak bilang sama saya kalau mau ikut antologi berbayar. Kalau bilang, saya nggak bakal kasih ijin. Duit segitu mendingan bikin antologi tunggal. Tapi ayah bilang kalau ayah nggak tahu. Tiba-tiba buku sudah jadi dan dia harus bayar.

Hari ke hari kami cuekin tapi kok yaa berasa dikejar hutang padahal nggak ngerasa hutang. Lah wujudnya aja nggak ada dari hutang tersebut. Suatu hobi itu memang mahal, tapi nggak gini dong caranya. Kayaknya nggak fair buat kami. Lagian si ayah juga terlalu polos sih orangnya. Meskipun nggak dipungkiri polos adalah cermin kebaikan hatinya.

Puncaknya yaa itu dua hari yang lalu orang itu lagi-lagi nagih. Ayah di kantor sementara saya lagi online di rumah. Akhirnya saya nyapa orang tersebut, maksudnya sih pengen bicarain ini baik-baik. Saya bukan orang yang gampang mencak-mencak. Semua harus ada etika dan aturannya. Tapi yaa apa daya sapaan saya sama sekali nggak dibalas. DIa nggak tahu apa yaa kalo suami istri adalah satu kesatuan utuh. Artinya begini kalo suami atau istri susah yaa pasangan juga ikutan susah. Dalam hal ini sayalah yang bakalan sulit mengatur keuangan bulan depan karena gaji udah banyak potongan eh ditambah kewajiban bayar itu buku yang lumayan besar jumlahnya.

Tiba-tiba ayah kirim pesan ke WA katanya bulan depan dibayar aja antologi patungannya itu. Nanti diganti. Ayah janji sama saya mau gantiin dengan side job. Terserah. Jawab saya. Si ayah WA lagi bujukin saya biar ikhlas semoga semuanya berkah. Dia minta saya percaya sama dia. Sampai rumah pun dia terus begitu bujukin saya. Anggap sedekah. Bujuknya. Saya cuma diam.

Dari hari sabtu n minggu saya nggak mood. Minggu siang itu iseng saya online di FB. Nggak sengaja menemukan status teman yang makjleb banget. Isinya…

Kesibukan akan Membuatmu Lupa Air Mata

Tahukah kau, beberapa orang yang menemuiku akhir-akhir ini mengatakan bahwa wajahku tampak lebih muda? Sssst, aslinya kan aku masih 17 tahun hehhe. Btw, apa hubungannya judul di atas dengan prolog narsisku ini?

Ada hubungannya yang pasti. Apa kau sering bersedih di sudut kamar? Menangis di balik selimut? Menyembunyikan sembab mata di bawah bantal? Bila kebanyakan waktumu dihabiskan dengan hal-hal di atas, bisa dipastikan kau kurang kerjaan. Hehehe. Hidup terlalu indah. Sia-sia bila dibuang percuma. Waktu akan menelanmu. Dan kau akan terlihat empat lima tahun lebih tua dari usiamu sebenarnya.

Beberapa waktu lalu, aku pernah dalam kondisi seperti itu. Dan tentu saja mengejutkan. Ada yang bilang aku kayak nenek-nenek. Hua. Padahal anak saja belum punya.

Nah, ketika aku memaksakan diri sok sibuk, segalanya mulai berubah. Kesibukan membuat hati dan pikiran bisa memilah, apa yang harus dilakukan, apa yang harus diselesaikan dan apa yang sudah sewajarnya dibuang ke tempat sampah. Kesibukan bahkan membuatku mengabaikan hal-hal negatif. Fokus. Itulah yang ada di pikiranku.

Fokus pada kesibukan tentu saja baik selama tetap peduli pada sekeliling. Dengan catatan, mata hati tetap terbuka untuk segala hal yang baik dan tertutup untuk hal yang berpotensi membawa diri pada keburukan. Memang, aku bukan ahli motivator tapi memotivasi diri sendiri untuk bisa membuka tutup mata hati pada keadaan sekeliling sudah membuat hidupku jauh lebih baik.

Air mata tak lagi jadi teman hanya di saat susah. Ia hadir saat aku dalam perasaan haru atas pertolongan Allah. Jarang sekali aku bersedih. Tepatnya beberapa waktu belakangan. Sebab aku tak mengizinkan kesedihan singgah lama atau menetap di hati. Bila sedih datang itu waktunya aku mengatakan terima kasih mau mampir untuk membuatku tetap tegar. Harus segera mempersilakannya pergi. Sebab ada banyak hal baik yang harus kulakukan bagi semua. Aku percaya, pikiran yang positif akan membawa kita ke tempat positif juga.

Karena itu, aku memilih tetap sibuk. Sibuk dengan pekerjaan, sibuk dengan suami dan anak-anak, sibuk dengan komunitas, tapi tidak sibuk untuk menggali masalah orang lain yang akan membuatku tenggelam di dalamnya.

Kalau kau sibuk apa? Hehehe

‪#‎womanTalk

Akhirnya saya PM dia di WA. Sahabat saya itu memang sebelumnya sudah tahu kasus itu. Saya bilang terima kasih atas statusnya. Sudah mengingatkan saya untuk tetap bersyukur, tetap menyibukan diri, dan nggak sedih lama-lama.

“Uang itu Insya Allah akan diganti suatu hari nanti, mbak.”Lalu sahabat saya itu mengingatkan saya untuk tetap bersyukur karena kondisi saya sebenarnya jauh lebih beruntung dari dia.

Diam-diam saya istighfar. Memang untuk kali ini saya lagi-lagi harus belajar ikhlas. Dalam hal apapun saya masih sangat beruntung. Itu yang harus saya syukuri.

“Bulan depan kita harus kerja keras, bun.”kata ayah.

Saya sebelumnya memang bilang sama ayah kalau saya mau kembali menulis kayak dulu lagi. Mau mengembangkan apa yang saya bisa. Mumpung sekarang Me Time semakin banyak dan nggak serempong ketika Aliya masih bayi. Beruntung punya pasangan dengan hobi yang sama walau beda genre, jadi bisa saling berbagi ilmu dan dukungan. Ada yang bisa diajak diskusi setiap waktu.

“Yup. Itu pasti. Ayah juga harus nulis lagi.”saya mengingatkannya.

Tahukah, dari keikhlasan ayah ini atas duit sebesar itu, justru saya mendapatkan semangat menulisnya lagi. Sedikit-sedikit dia mulai bilang “Bun, ayah punya ide nih gimana kalo bikin puisi bla bla bla.. bikin cerita bla bla bla…”Yeah… dia mulai lagi mengusik saya dengan semua idenya. Hahaha. Dan kali ini saya merasa bahagia melihat dia menemukan semangatnya lagi.

“Ayah, bunda udah ikhlas. Jadi kita sama-sama kerja keras lagi.”

Ayah tersenyum mengangguk.

Sore itu saya lagi-lagi membuka FB. Betapa terkejutnya saya mendapat kabar kalau kakak ipar saya positif hamil dan sudah lima minggu. Wow ini kabar gembira sodara-sodara. Kenapa? Karena anak pertama Kak Ijul, si Marsha itu baru saja berusi satu tahun. Nggak nyangka secepat itu bisa hamil lagi. Padahal mereka dapat Marsha itu lumayan lama, ada kali setahun lebih kosong.

Saya langsung misuh-misuh sama tante saya (tante yang sebenarnya usianya lebih muda dari saya.”

“Loe mau dapat cucu lagi noh. Si panjul bininye hamil hahaha…”Ini obrolan di chat FB,

“Cucu gue emang banyak dari nenek loe. Hahaha. Eh iya hebat banget yee dia itu, kita aja mau hamidun lagi mikir berkali-kali ee die langsung toker huahaha.”bales si tante ini.

“Ah jadi pengen nambahin cucu lagi buat loe.”ketik saya asal.

“Eh serius?”

“Kagaklah becanda kali. Nyang nyari duitnye termasuk eikeh belum siap.”jawab saya.

“Hahaha sama, non. Padahal anak2 kite udah pade ribut yee minta adek.”

“Iyaaaa…!!!”

Begitulah sore itu saya kembali sebagai emak-emak pada umumnya. Hayah. Langsung PM kakak ipar di WA (ini kakak ipar juga sebenernya lebih muda dari saya setahun. Tapi apalah arti sebuah umur, sekali kakak yaa tetap aje kakak.) ngucapin selamat. Nyimak sedikit curcolannya n tetap kasih semangat karena saya paham nggak mudah menerima kehamilan dengan jarak sedekat ini. Tapi rejeki tetap rejeki dong. Setiap keikhlasan dan anak pasti ada berkahnya. Insya Allah.

Langsung main tebak-tebakan sama ayah kalo calon ponakan saya berikutnya cewek apa cowok hahaha. I love my life 😉

Advertisements

9 thoughts on “I Love MyLife (Ikhlas, Syukur, dan Bahagia)

  1. ada pelajaran berharga soal nerbitin buku antologi. kalau saya seh udah jelas nggak mau kalau ujung2nya begitu

    mudah2an dapat rezeki yang lebih banyak dan lebih berkah ye, mpok.

    aamiin

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s