Sahabat Pilihan

SONY DSC
KEBERSAMAAN PERSAHABATAN

Pertemanan, persahabatan mungkin nggak ada yang abadi seperti yang pernah saya share di status Facebook tentang masa demi masa pertemanan atau persahabatan. Dari yang mulai berjanji bakalan sama-sama terus, sampai mereka jadi jarang ketemu karena kesibukan hingga akhirnya mereka hanyalah menjadi mereka yang mungkin kalau ketemu nggak bakalan nyambung lagi obrolannya. Artikel itu saya dapat dari sebuah grub di Line. Agak sedih juga bacanya, karena sebenarnya saya kangen banget sama sahabat SMA saya itu. Dulu sering curhat hampir tiap hari, gentian menginap di rumah masing-masing, sampai saling baca buku diary masing-masing.

Saya kangen tapi ketika saya baca artikel itu rasanya saya sadar oleh sesuatu. Mungkin memang benar semua ada masanya. Tentu saya saya pun tidak mau menganggap sahabat SMA saya bukan teman yang baik lagi. Tidak sama sekali, walau bagaimana pun saat itu cuma dia yang tetap ada saat saya galau. Dan hanya dia satu2nya sahabat SMA saya yang datang ketika saya merit walau datangnya telat. Dia tetap bela2in datang dari Cirebon ke Jakarta.

Semua memang ada masanya dan saya cukup bersyukur dengan kehidupan yang sekarang. Allah menggantinya dengan berkah yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Ya, dengan keluarga kecil saya. Itu sudah suatu karunia yang cukup besar bagi saya. Setelah itu saya sibuk dengan semua persiapan buku saya yang akan terbit kemarin. Saya sibuk dengan naskah, sibuk layout, dan diskusi dengan penerbit mengenai cover buku yang keren. Di samping dengan kesibukan rutinitas saya sebagai ibu rumah tangga.

Setelah buku terbit, saya tidak menyangka beberapa teman yang dulu dekat ternyata menghubungi saya. Termasuk Michi, si emak yang satu ini malah bilang mau kasih kado kalau saya ulang tahun nanti. Padahal sampai sekarang saya nggak pernah kasih kado ke dia. Saya terharu, ternyata tidak semua teman telah meninggalkan saya. Ternyata Michi masih ingat tentang saya termasuk hari special saya di antara kesibukannya ngurus satu orang balita dan satu orang baby. Allah telah menunjukan beberapa teman yang sangat baik kepada saya.

Mak Anita yang dari dulu emang suka kepo PM kalo ada apa-apa dengan status saya. Oiya kepo bagi saya adalah bagian dari perhatian loh. Terus ada Ayumi, si wanita karir yang juga masih bilang “Neng lain kali kalo butuh bantuan apa gitu, bilang yaaa..” sebenarya saya pengen bilang ini eikeh butuh dana buat ganti LCD laptop eikeh yang pecah hahaha tapi pasti nanti dijitak sama ayah huhuhuu. Becanda kok Yum.

Ada sahabat baru saya yang sebenarnya saat saya kuliah, dia sering memperhatikan gerak-gerik saya dari kejauhan tapi baru dekat yaa saat kita temenan di FB. Kita akhirnya suka curhat apa aja sampe ke masalah ekonomi segala. Saling dukung, saling menguatkan juga mendoakan untuk keluarga masing-masing.

Dan terakhir yang saya nggak nyangka, teman saya dulu sesama rumah hijau (seenggaknya dia bilangnya sih begitu) alias komunitas menulis Kemudian.com alias pemilik penerbitan yang telah menerbitkan buku saya itu, care banget sama saya. Terutama sama laptop saya yang pecah, karena konon katanya dia juga pernah mengalami hal yang sama. Saking carenya sampai menawarkan berbagai macam penawaran yang mungkin kalau di penerbit lain saya nggak akan mendapatkannya, salah satunya saya diminta bantuannya jadi editor lepas.

Dari situlah saya baru sadar bahwa di antara LCD laptop yang pecah maka terbukalah pintu rejeki dari mana aja. Padahal saya baru aja berdoa saat sholat Zuhur tadi, minta sama Allah buat digantiin rejekinya dan saya pasrah se..pasrah-pasrahnya. Eh kok malah jadi curcol LCD yaa… aih back to topic. Intinya begini saat saya mengharapkan seseorang sahabat hadir kembali. Seorang loh iya hanya SEORANG. Ternyata Allah menunjukan betapa masih banyak sahabat2 saya yang care sampe sekarang sama saya.

Dari yang memberikan dukungan moril sampe dukungan kerjaan. Alhamdulillah. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang akan kamu dustakan. Ternyata benar kata ayah dalam proses penerimaan tetaplah berbuat baik kepada semua manusia walaupun ada aja manusia yang merendahkan dan menzolimi maka tetaplah bepikir positif dan berbuat baik. Perkara kita dizolimi maka kembalikan semuanya sama Allah. Itu ajaran ayah, yang jujur sangat sulit sekali diterapkan tapi karena suami terus menerus mengajarkan juga mepraktekan tanpa bosan, jadi saya mau nggak mau dengan sendirinya mengikuti.

Akhir kata adalah Allah lebih tahu mana sahabat dan teman yang baik untuk kita. Yang nantinya akan selalu ada atau mengikuti setiap tahap2 kehidupan kita. Dan teman seperti itulah adalah teman pilihan Allah untuk kita. Sementara itu kita tidak dapat menentukannya, cukup bersyukur dan mengikuti kemana alurnya Allah.

Advertisements

2 thoughts on “Sahabat Pilihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s