[#Key] Sepotong Masa Lalu

Malam itu aku kembali menelusuri sepanjang jalan ibu kota. Lama sekali aku tidak mengukur jalannya. Ternyata semua masih sama. Lagi, ingatan tentangmu bermain dalam benakku, Key. Menari-nari menggodaku untuk melupakan sejenak statusku sekarang hingga debaran jantung ini tidak mau berdetak perlahan, tidak lagi berdetak seirama. Rasa ini, rindu ini sama persis seperti beberapa tahun yang lalu, Key. Saat aku jatuh cinta padamu. Tapi kali ini mungkin aku jatuh cinta dengan semua ingatan tentangmu.

Sialnya semua ingatan tentang kita terus bermain di sepanjang jalan yang sedang kulalui. Padahal ada tangan lain yang sedang menggenggamku, Key. Di sampingku. Aku tersenyum miris. Mengutuk diriku sendiri dengan pertanyaan mengapa harus melalui jalan ini? Bodohnya aku sangat menikmati setiap skenarionya, Key.

Aku ingat dulu kamu yang pertama kali mengenalkanku dengan megahnya ibu kota dan segala cinta yang kamu miliki, Key. Cinta dengan caramu sendiri. Cinta dengan cara hidupmu yang bebas tanpa kehilangan kepedulian dan kasih sayang. Cinta dengan kejujuran yang mungkin menyakitkan tapi menurutmu itu lebih baik, dari pada menjadi sebuah kebohongan dan bom waktu. Aku mencoba memahami caramu itu, Key. Sayangnya, aku tidak cukup waktu untuk menunggumu melepaskan semua kebebasanmu, Key. Masih ada bagian hidupku yang lebih penting dari pada aku harus menunggumu. Yakni, mimpiku tentang pernikahan.

Diam-diam aku memejamkan mataku lalu mencoba mengeja apa yang pernah kita lalui di sepanjang jalan ini. Memandang bulan tanpa bintang dengan membicarakan mimpi kita masing-masing. Aku tersenyum miris. Mimpi kamu nggak jelas, Key. Maksudku mimpimu itu yang tidak memiliki tujuan atau aku yang tidak bisa memahami semua mimpimu. Mungkin juga kamu terlalu menikmati hidup ini tanpa beban tanggung jawab yang berat. Aku ingat waktu kita sedang merangkai mimpi yang berbeda itu sembari menikmati bubur ayam di selasar senj, tiba-tiba ponselmu berbunyi. Teman dekatmu. Nggak lama ponsel itu kamu serahkan kepadaku, temanmu itu ingin berbicara denganku. Aku melirik heran.

“Ngomong aja, Dek. Temanku baik kok.”katamu sambil mengedipkan mata. Aku menerima ponsel itu dengan ragu-ragu. Detik berikutnya aku dihujani berbagai pertanyaan seputar hubunganku denganmu, Key.

“Tinggalkan dia.”Kata temanmu itu. Lagi, untuk kesekian kalinya seseorang yang berteman denganmu menyuruhku meninggalkanmu. “Dia itu bahaya buat kamu. Tinggalkan dia.”Lanjut temanmu itu. Saat itu aku tidak tahu mau menjawab apa. Bahaya? Gumamku pelan, sambil menatapmu dengan penuh tanda tanya. Bukan, bukan aku tidak tahu seberapa bahaya kamu untuk aku, Key. Aku sudah tahu siapa kamu, Key. Jauh sebelum aku jatuh cinta sama kamu. Sialnya, kenapa juga aku bisa jatuh cinta dengan orang sepertimu, Key.

Hanya saja kenapa beberapa temanmu itu malah menyarankan aku meninggalkanmu dan bagi mereka itu adalah bentuk perlindungan mereka atas aku dari kamu. Tiba-tiba kamu langsung merebut ponselmu itu dari genggamanku tanpa sempat aku menjawabnya.

Setelah pembicaraanmu selesai di ponsel, kamu langsung menarik tanganku. “Kita pulang.”Ajakmu tanpa menunggu persetujuanku. Sepintas aku melihat raut wajahmu menahan kekesalan. Tahukah Key, aku masih ingat raut wajah kesalmu sampai sekarang dan diam-diam aku merindukannya.

“Kak?”Spontan aku melepaskan tanganku. Menatapnya dengan penuh tanda tanya.

“Ya.. ampun dek, percayalah aku mau tobat.”Pekikmu lalu kembali menarik tanganku dan memasukanku ke mobil. Sepanjang perjalanan pulang kita hanya diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

Setelah mengantarku sampai depan pintu rumah dan basa-basi pamit kepada kedua orang tuaku, kamu pergi tanpa tersenyum padaku.

“Kamu percaya gitu dia mau tobat?”Tanya temanmu itu setelah beberapa hari kemudian. Temanmu itu rupanya mencari kontakku diam-diam tanpa sepengetahuanmu dan mengajakku bertemu di sebuah restoran cepat saji dekat rumahku.

Aku mengangguk mantap.

Temanmu itu tertawa keras lalu memandangku dengan tatapan kasihan. “Sudah berapa lama mengenalnya heh? Aku itu kenal dia sudah dari SMA. Kamu tahu berapa kali dia bilang mau tobat tapi gagal.”

“Mungkin kamu tidak membantunya untuk tobat atau malah menyepelekan niatnya?”Kataku santai.

“Hey, aku ini teman dekatnya, pastilah aku bantu tiap dia bilang mau tobat tapi yaaa niatnya dia aja yang belum mantap.”

“Kali ini percayalah padanya.”Pintaku tulus.

“Oke tapi kita juga harus siap untuk kecewa. Saranku, tinggalkan dia sebelum terlambat.”

Sebulan lebih berlalu. Selama itu pula hubungan kita baik-baik saja. Saat itu aku sepenuhnya percaya sama kamu, Key. Percaya kamu akan menjadi manusia yang lebih baik, karena memang pada dasarnya kamu adalah orang baik. Percaya akan niat kamu. Saat itu kupikir niat baik, kenapa tidak didukung. Seiring dengan itu, harapanku semakin bertambah padamu, Key.

Hingga suatu hari aku menunggumu di rumahmu. Malam itu, kamu tidak juga pulang. Ponselmu nggak ada yang aktif. Sampai aku bertekad tidak akan pulang sebelum kamu pulang. Bahkan aku hampir saja bermalam di rumahmu kalau saja tidak ingat aku masih punya orang tua di rumah yang selalu menungguku pulang. Akhirnya aku menyerah dan pulang.

“Semalam pulang kapan? Darimana?”Tanyaku keesokan harinya via ponsel.

“Aku baru pulang. Tadinya aku mau kontak kamu eh kamu udah nelpon aku duluan.”Di seberang sana suaramu terdengar lelah.

“Kakak darimana?”Tanyaku sekali lagi.

“Dari… yaa.. biasalah dek, kamu tahu aku kan dek.”Jawabmu tanpa beban.

Aku memejamkan mata. Menahan sakit. Jawaban jujur seperti itu yang enggan aku dengar darimu, Key. Tapi itu lebih baik daripada berbohong. “Check in?” tanyaku setengah berbisik dan hati-hati.

“Yup.” Terdengar desahan napas berat dari sana.

Lama aku tidak langsung menjawabnya. Menahan tangis yang rupanya tidak bisa aku tahan. “Apa…apa aku masih bisa percaya padamu?”Tanyaku setengah terisak. Saat itu dadaku seperti ditinju berkali-kali, Key.

“Maafkan aku, dek.”Ucapmu lirih.

Sejak kejadian itu, pelan-pelan aku mencoba melepasmu, Key tanpa meninggalkanmu. Kamu juga masih suka menemaniku bahkan saat aku terpuruk karena kamu, tanpa ragu kamu tetap menemaniku, Key. Berhasil. Dan aku pun tidak menyangka kamu juga sempat ikut andil dalam pernikahanku, Key walau akhirnya karena kesibukan kamu tidak sempat datang ke pernikahanku.

“Menikahlah tapi jangan dengan aku. Sesungguhnya mimpi kita berbeda, Dek. Tidak ada yang bisa memahami mimpiku termasuk kamu. Percayalah, aku akan tetap berusaha ada saat kamu butuh. Menikahlah dan bahagialah, karena aku percaya kamu bisa menjadi istri dan ibu yang baik.”Begitulah kata-kata terakhir pertemuan kita dulu saat beberapa hari menjelang pernikahanku. Detik itu juga aku sadar, Key bahwa aku benar-benar tidak bisa memahami caramu mencintaiku.

Kau tahu aku merelakanmu. Aku cuma rindu aku cuma rindu. Takkan mencoba tuk merebutmu. Aku cuma rindu aku cuma rindu. Itu saja. (Gagal Bersembunyi – The Rain)

poa, 22 Juli 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s