Berdamai Dengan Diri Sendiri

Saya terjaga pagi itu. Kamu sudah tidak ada di samping saya namun samar saya mendengar suara guyuran air dari kamar mandi. Saya tersenyumm tipis, rupanya kamu sedang mandi. Detik kemudian saya terdiam lama, rasa sakit itu masih ada rupanya dan tanpa sadar bulir-bulir itu telah membasahi pipi saya lagi. Sakit sekali. Saya belum pernah merasa sesakit ini sejak bersama kamu. Kamu selalu berhasil membuat saya selalu tersenyum dengan kesederhanaanmu.

Tentu saja rasa sakit kali ini bukan karena kamu tapi karena saya sebagai istri yang tulus mencintai suaminya lalu melihat sang suami jatuh bangun mencari nafkah untuk kami lalu tidak dihargai dengan hormat oleh mereka. Itu sama saja mereka tidak memahami keberadaan kami serta kerja keras kamu selama puluhan tahun di sana.

Tak lama terdengar pintu kamar mandi dibuka. Saya langsung mengelap sembarang air mata dengan kedua tangan saya lalu beranjak keluar kamar kemudian saya duduk di kursi ruang tengah dengan tatapan hampa. Sesak rasanya. Ini nggak adil tapi cuma bisa diam. Mau menyalahkan siapa juga memang nggak ada yang bisa disalahkan. Pengen gitu terima dengan terbuka, lapang dada, dan pasrah tapi kok ya saya masih butuh waktu. Ternyata ketika ikhlas dituntut tidak hanya dengan ucapan belaka itu sulit. Baiklah, saya hanya butuh waktu dan mengeja semuanya.

“Sudah bangun bun?” Tanya kamu. Entah kapan persisnya kamu sudah berdiri di hadapan saya dengan penampilan yang sudah rapi. Siap-siap mau berangkat ke kantor.

Saya tersenyum kecil menatapnya. Diam-diam miris. “Sudah, ayah jadi berangkat pagi-pagi ya.”

“Iya bun, banyak mobil yang harus dikirim pagi-pagi.”Jawab kamu. Sepintas saya melirik wajahmu. Cerah. Seperti nggak ada masalah apapun padahal saya tahu kamu yang lebih banyak menanggung beban ini dari pada saya.

“Oh…”jawab saya lalu melamun lagi. Hampa sekali rasanya.

“Banyakin sedekah bun. Keluarin zakat dari penghasilan ayah kemarin dan jangan mengurangi nominalnya buat orang tua bunda nanti. Kita mengalah. Nggak apa-apa kan?”

Saya hanya mengangguk dengan tatapan kosong. Lalu kamu mengambil sisir dan sibuk merapikan rambutmu dengan sisir itu. Sementara saya masih sibuk dengan kesedihan saya. Saya masih belum bisa berpikir jernih. Masih butuh waktu untuk mercerna semuanya.

“Bunda, ayolah berdamai dengan diri sendiri setelah itu bunda pasti bisa berdamai dengan keadaan. Maafin ayah ya tapi ayah tetap akan terus bertanggung jawab atas nafkah kalian.”Kata ayah sambil menyisir rambut saya.

Menyadari apa yang lagi dilakukannya yaitu menyisir rambut saya, saya pun akhirnya tersenyum geli. Kamu nggak romantis tapi perlakuanmu itu kadang bikin saya geli dan menjadi hiburan tersendiri bagi saya.

“tapi mereka…”belum sempat saya melanjutkannya, telunjuk kamu segera menempel di bibir saya.

“Ssstt…biarlah mereka mendapatkan balasan tersendiri dari Allah. Biar gimana pun ayah harus mencari nafkah untuk kalian. Berdoa saja ada rejeki tak terduga. Ini masih bulan puasa. Semoga doa kita diijabahkan. Tapi tetap jangan mengurangi jumlah sedekah ya.” Kata ayah.

Saya mengangguk dan tertegun menatapnya. Salut. Kamu bisa sempurna dalam hal penerimaan. Legowo, kalau kata orang jawa. Kamu tetap bisa tersenyum dan wajahmu cerah sekali pagi ini. Padahal saya tahu kamu sedang menderita. Akhirnya saya tersenyum.

“Ayah pulang kapan?”Tanya saya lalu bangkit dan siap-siap membuka pintu dan pagar. Mengantar kepergianmu mencari nafkah.

“Secepatnya kalau kerjaan udah beres.”jawab kamu sambil mengambil kunci motor dan semua keperluan untuk dibawa ke kantor. “Pulangnya ayah antar bunda beli sepatu ya, ayah juga mau beli ikat pinggang nih.”Lanjut kamu.  Ah iya ini weekend yaa. Pantas saja. Saya baru menyadarinya, segitu sedihkah saya padahal keadaan seperti ini sudah biasa kami hadapi dengan sempurna.

“Bunda antar ayah aja beli ikat pinggang. Beli sepatunya nanti. Kapan-kapan aja.”kata saya setelah membuka kunci pintu dan pagar lalu menaruhnya di tempat semula.

“Beli aja bun. Kan bunda cuma punya sepatu sandal karet dan udah jelek.”Ayah mengingatkan saya. Saya hanya menatapnya tanpa jawaban apapun, “beli aja, setidaknya kali ini ada yang dibelikan khusus buat keperluan bunda. Ya?”lanjut ayah. Saya pun mengangguk tulus.

Kamu selalu bisa meringankan kesedihan saya sementara saya kurang bisa menjadi penyejuk bagi kamu. Buktinya saya nggak tahu sampai kapan saya bisa berdamai dengan diri sendiri. Sulit. Namun akhirnya harus dilakukan. Kali ini saja biarkan saya menikmati kesedihan. Kali ini. Konon katanya air mata yang keluar akan mengurangi bebas stress kita sekian persen. Iya, kali ini saja untuk selanjutnya saya pasti bisa berdiri lagi, kuat lagi, dan optimis lagi. Sama seperti sebelumnya, kita pernah menghadapi hal yang lebih sulit dari ini bahkan saking sulitnya kita sampai tidak bisa berbagi. Tapi kali ini kita masih bisa berbagi walau harus mengalah.

Senyum saya tersungging lalu setelah kamu berangkat saya pun melakukan rutinitas saya sebagai ibu rumah tangga serta berdoa yang baik-baik untuk kelancaran semuanya.

Advertisements

6 thoughts on “Berdamai Dengan Diri Sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s