Unek-Unek Alias Curcol

Pernah mengalami emosi meledak seketika, seperti bom waktu. Saya pernah dan itu semalam ketika ayah pulang kerja. Seharusnya nggak boleh begitu ya. Awalnya sih senyum, senang karena Aliya sudah tidur sebelum ayah pulang. Tapi Aliya bangun ketika ayah berada di depan kamar. Mungkin batin kali, ya (ini membuktikan kalo Aliya selama ini bergadang karena memang ingin main2 sama ayah, kangen sama ayah). Saya nggak kasih Aliya keluar kamar dan tetap tidur tapi Aliya ngadat. Jerit2an panggil ayah. Saya serba salah antara nggak enak sama ayah yang baru pulang kerja dan mendisplipinkan anak untuk tidak lagi tidur malam.

Ujung2nya ayah menyalahkan saya dan Aliya memojokan saya dengan ngadatnya. Sementara kondisi saya semalam lagi capek pake banget setelah seharian berjibaku sama cucian yang nggak kelar-kelar disambi bersihin kulkas serta dengan seabrek kerjaan rumah tangga lainnya. Hasilnya emosi saya meledak. Unek-unek yang selama ini saya pendam, yaa saya keluarin aja. Semuanya, iya semuanya. Dari mulai merasa nggak dihargai dan nggak ada yang bantu2 kerjaan rumah tangga serta nggak didukung cara saya mendidik Aliya (apalagi kalo saya lagi tegas tuh kayaknya si ayah selalu deh belain Aliya). Awalnya adu mulut, makin diadu yaa sayanya makin keras heuheuheu. Akhirnya ayah diam sambil gendong Aliya, dengerin saya ngoceh.

Saya selalu berusaha menghindari pertengkaran di depan Aliya tapi kali ini rasanya udah nggak kuat lagi. Terakhir yaa saya nangis saking kesalnya. Kalo udah gitu ayah tinggalin saya sendiri. Eh nggak ding ayah di teras sementara Aliya ngekor saya ke kamar (mungkin gak tega kali ya liat emaknye nangis). Begitulah kalo kami bertengkar untuk meredakannya pasti salah satu ada yang harus menghindar dulu untuk beberapa saat. Masing-masing intropeksi.

Saya dan ayah tetap tidur sekamar. Apapun yang terjadi, saya dan ayah memang punya prinsip tetap sekamar walaupun sedang bertengkar. Mungkin ayah bukan tipikal romantis jadi dia cuma diam aja tanpa minta maaf dan merayu saya untuk baikan. Sekitar jam dua dini hari saya terbangun sementara ayah pulas. Diam-diam saya pandangi wajahnya saat lagi tidur gitu. Ada rasa bersalah tapi tetap masih kesal.

Harusnya tadi malam saya membiarkan Aliya untuk bangun dan kita bertiga asik menikmati oleh2 sate ayam dari ayah. Harusnya kita bertiga asik ngoceh sampe dini hari. Kalau saja saya masih bisa menahan emosi. Hiks hiks… Maaf ya ayah. Lalu saya genggam tangannya dan kecup keningnya terus siap-siap tidur lagi eh tiba-tiba ada yang nahan, iya si ayah meluk saya. Saat itu juga tangis saya tumpah lagi. Tidak ada kata maaf tapi saya bisa maklum (biasalah cowok itu paling gengsi bilang maaf). Pelukan seperti ini rasanya sudah cukup bagi saya. Detik itu juga saya menyadari bahwa saya sangat mencintai sosok yang sudah menemani saya selama empat tahun belakangan.

Advertisements

8 thoughts on “Unek-Unek Alias Curcol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s