Cerpen: Ke(y)Kian

cincinkawin

NB: Judulnya itu diambil dari nama makanan Frozen Food olahan ikan favorit Aliya, yaitu Kekian. Gambar nyaplok dari gugel secara emang suka banget sama model cincin kawinnya tapi pas nunjukin ke suami gambar cincin ini, si ayah malah bilang, ini anak bukannya wirid ato ngaji sambil nunggu subuh malah mupeng sama cincin kawin. Dasar cewek! huahahaha

Kian menerawang seperti membayangkan sesuatu setelah mendengarkan Key curhat tentang semua perempuan yang hanya mampir sesaat, mungkin bukan mereka yang mampir sesaat untuk Key tapi justru sebaliknya Key malah menganggap mereka hanya untuk kesenangannya belaka.

“Usia kamu berapa sih sekarang? Aku lupa.” Tanya Kian tanpa melirik Key.

“Tiga puluh enam tahun.”Jawab Key.

Mendengar jawaban itu Kian malah tertawa sekerasnya. “Kenapa ketawa?” Tanya Key sebal.

“Ternyata udah tua ya hahaha.”

“Sialan! Tapi belum cukup tua untuk cowok ganteng seperti aku kan.” Key mencari pembenaran.

Kian mendadak diam beberapa saat lalu. “Kita kenal ternyata udah lama banget ya. Aku ingat dulu kamu masih umur dua puluh delapan tahun sementara aku masih umur dua puluh yaa kalo nggak salah.”

“Dan kamu adalah mahasiswi cupu yang nggak bisa main internet.”Sambung Key.

“Hahaha iya bener. Masih ingat yaa.”

Key mengangguk.

Kian kembali menerawang. “Dulu aku juga hapal banget berapa usia kamu dan kapan kamu ulang tahun. Sekarang mah boro-boro. Aku malah lupa beberapa hal tentang kamu.”

“Hahaha dulu yaa… Aku baru tahu dulu kamu bisa sehapal itu.”

“Yaa.. kan karena dulu aku suka sama kamu. Tapi aku malah diomelin abis-abisan sama Rara terus teman-teman kamu juga pada larang aku suka sama kamu. Yaa karena kamu cowok bajingan. Setidaknya begitu kata mereka.”Oceh Kian.

Kali ini malah Key yang tertawa keras mendengar ocehan Kian. “Huahahaha kalian ini ada-ada aja. Terus sekarang masih suka sama aku?”

“Ih udah ifil kali kamu kan tukang PHP-in cewek. Bisa-bisa malah makan ati kalo terus suka sama kamu.” Jawab Kian, “Nah sekarang mau sampe kapan kayak gini. Emang situ nggak pengen merit.”

“Kayak emak-emak aja nanyak kayak gitu. Gimana mau merit. Lah cewek yang pengen aku nikahin aja udah nggak suka sama aku. Yaudah.”

“Hooo..” Kian mengangguk polos.

“Bisa nggak kamu suka sama aku lagi, biar aku bisa merit.”

“Heu?” Kian memandang Key tak mengerti.

“Bisa nggak?”Tanya Key sekali lagi.

Kali ini Kian memandang Key ragu. Dia sendiri juga tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap Key sekarang, Entahlah. Namun untuk menikah dengan Key, sepertinya meragukan. Dia tidak mungkin hidup bersama dengan orang macam Key selamanya. Bukankah memilih pasangan untuk menikah itu sama saja memilih masalah yang akan kita hadapi seumur hidup.

“Cowok baik-baik itu untuk cewek baik-baik, neng. Key itu nggak pantes dapetin cewek sebaik kamu.”Begitulah kata Rara beberapa tahun yang lalu ketika Kian masih saja berprinsip bahwa cinta tidak memandang siapapun dan bagaimana pun orang yang kita cintai. Cinta tidak mengenal baik dan buruk juga tidak membutuhkan logika.

Seiring bertambahnya usia, pengalaman dan kedewasaan, pelan-pelan Kian sadar cinta itu butuh logika. Sejatinya pernikahan bukan hanya urusan dua orang yang saling mencintai tapi juga urusan dua keluarga dengan latar belakang yang berbeda. Tak hanya itu, pernikahan juga menyangkut keturunannya kelak.

“Mamaku yang minta aku buat merit sama kamu. Sebenarnya udah lama sih mama mintanya tapi aku cuekin. Kamu terlalu baik buat aku, Ki. Saking baiknya aku sampe nggak tega main hati sama kamu.”Jujur Key.

“Kalo gitu yaa aku nggak bisa. Sori.”Tolak Kian.

“Lah kok begitu?”

“Iyalah aku nggak mungkin merit sama kamu, karena aku tuh bukan pilihan kamu tapi pilihan mama kamu. Itu artinya kamu egois. Lebih mikirin kepentingan kamu sendiri, bukan perasaan aku.”Key rupanya kamu memang nggak pernah berubah. Lirih Kian dalam hati.

“Sembarangan. Kata siapa aku nggak cinta sama kamu. Justru karena aku cinta sama kamu, aku nggak tega  memperlakukan kamu seperti mereka.”

“Kalo pun kamu emang bener cinta sama aku tapi aku nggak yakin kamu bisa setia.”

“Ya sudahlah kalo kamu nggak mau merit sama aku. Tapi siap-siap aja bulan depan aku bakal bawa orang tuaku ke rumahmu. Aku yakin orang tuamu juga nggak bakal nolak aku.”Kata Key yakin.

“Kamu gila.”Kian melotot tak percaya.

Sudah jelas orang tuanya nggak bakal menolak Key. Selama ini Key memang dikenal baik oleh kedua orang tuanya. Bahkan ayahnya pernah menyangka kalau Key itu pacarnya. Mereka, kedua orang tuanya itu, tidak tahu kalau Key playboy yang harus diwaspadai. Soalnya selama ini Key memang santun di hadapan kedua orang tuanya. Dasar licik.

“Mungkin lebih tepatnya nekat bukan gila.”Jawab Key santai.

“Coba aja kalo berani.”

Sebulan kemudian…

Terkadang cinta memang membutuhkan logika tetapi jodoh itu punya skenarionya sendiri. Dan kini di jari manisnya telah melingkar cincin emas bertulisan Key.

Selesai

Advertisements

8 thoughts on “Cerpen: Ke(y)Kian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s