Sisi Lain Seorang Jenderal Soedirman

Cover Soedirman

Judul: Kupilih Jalan Gerilya

Penulis: E. Rokajat Asura

Penerbit: Imania

Harga: Rp. 55.000

Cetakan: ke-1 Februari 2015

Tebal: 270 Halaman

Tanpa sengaja saya menemukan buku ini di salah satu rak toko buku Gramedia. Melirik sebentar ada gambar tokoh pahlawan favorit saya dari SD, Jenderal Soedirman. Akhirnya saya menemukan buku yang selama ini saya tunggu-tunggu karena dari dulu jaman saya sekolah nggak ketemu buku seperti ini. Buku yang menceritakan tentang Jenderal Soedirman secara keseluruhan. Selama ini saya hanya mengenal beliau dari buku pelajaran sejarah atau saya juga pernah membeli buku tentang beliau untuk versi anak-anak.

Ingat dulu jaman saya SD ada sinetron Jenderal Soedirman di Indosiar waktu itu kalau nggak salah pemerannya bukan artis melainkan cucunya Sang Panglima Besar sendiri, Ganang Priyambodo atau sekarang lebih dikenal sebagai Ganang Soedirman. Saya menyesal tidak pernah menonton sampai tamat, sejak itu saya kalau ke Gramedia suka iseng cari-cari buku tentang beliau dan baru ketemu sekarang.

Sesuai dengan judulnya, buku ini menceritakan tentang perjalanan perang gerilya ketika Belanda mengingkari Perjanjian Renville padahal saat itu Soedirman sedang berjuang melawan penyakitnya yang semakin parah. Jangankan untuk berperang, untuk bangun pun Soedirman sangat kesulitan, ditambah batuk yang hampir terlalu sering ritmenya karena TBC. Namun kuasa Allah menentukan lain. Soedirman mampu melakukan gerilya hingga Belanda benar-benar menyerah dan melakukan gencatan senjata.

Tidak mudah melakukan gerilya dengan kondisi serba terbatas. Keluar masuk hutan, naik turun gunung, dan menyeberangi sungai dilakukan Soedirman dan rombongannya untuk menghindari musuh. Semua dilakukan dengan kondisi keterbatasan makanan dan keterbatasan waktu untuk istirahat memulihkan tenaga, karena lengah sedikit, mereka bisa saja tertangkap oleh Belanda. Beberapa kali mereka hampir tertangkap karena keberadaan penghianat di dalam rombongan mereka tapi untung saja Allah masih melindungi mereka. Walau pada akhirnya banyak nyawa yang harus dikorbankan.

Soedirman beruntung memiliki sahabat dan prajurit yang loyal. Hal itu sangat mempermudah jalan gerilyanya. Salah satunya adalah prajurit dan rakyat bergotong-royong membuat tandu untuk dirinya agar mempercepat dan mempermudah langkahnya untuk menyusuri jalan yang tidak mudah ditempuh dengan kondisi sakitnya yang semakin parah. Prajurit dan rakyat pun sama-sama bergantian mengangkat tandu Sang Panglima tanpa kenal lelah.

Di sini penulis tidak hanya menulis tentang perang. Beberapa kali diselingi alur mundur yang menceritakan tentang masa kecil Soedirman, tentang perjalannya menempuh pendidikan sampai akhirnya menjadi guru hingga romantisme Soedirman dengan sang istri, Alfiah. Saya kagum dengan kesabaran, ketelatenan, dan kelembutan Alfiah. Bagaimana dia terpaksa ditinggal suami untuk gerilya dalam keadaan sedang hamil hingga waktu yang tidak bisa ditentukan. Setiap harinya dilanda was-was tentang kabar suami. Apakah suami akan pulang dalam keadaan selamat atau hanya tinggal nama.  Tapi dia bisa melalui semua itu dengan kondisi baik-baik saja. Menyembunyikan kerisauannya di hadapan anak-anaknya yang masih kecil. Seolah dari awal dia sudah siap dengan segala resiko menjadi istri seorang Panglima Besar dalam kondisi perang.

Setiap akhir cerita tentang hidup seorang pahlawan pasti diakhiri dengan sad ending. Hanya saja sad ending yang elegan, dalam artian mereka akhirnya gugur dengan pengorbanan yang tidak sia-sia. Gugur disaat tugas mereka telah selesai pada waktunya. Seolah-olah mereka memang diciptakan untuk menjadi pejuang kemerdekaan.

Saya salut penulis bisa menghidupkan sisi lain seorang Soedirman dengan detail tanpa menimbulkan rasa bosan sehingga saya ingin terus membacanya sampai akhir tanpa melewatkan satu halaman. Sisi lain Soedirman ini sangat menarik, penulis berhasil menjiwai setiap kisah yang melibatkan emosi tertentu.

Buku ini patut dibaca karena selain bercerita tentang kisah nyata seorang pahlawan pejuang kemerdekaan yang bisa mendukung referensi sejarah, juga banyak pesan moral yang bisa diambil dalam buku ini diantaranya adalah keteladanan dan nilai-nilai luhur seorang pejuang. Untuk generasi muda terutama yang masih sekolah cobalah baca buku seperti ini, minimal untuk mensyukuri bahwa kalian telah hidup di masa Indonesia sudah merdeka sehingga kalian bisa hidup dengan rasa aman, nyaman, tentram, dan bebas dari rasa takut.

Penokohan yang nyaris sempurna membuat sisi manusiawi dari masing-masing tokoh dalam buku ini berkurang. Seperti misalnya tokoh Alfiah, sebagai istri dan manusia biasa menurut saya terlalu sempurna digambarkan dalam buku ini. Tidak ada keluhan sama sekali bahkan menghadapi kondisi genting sekalipun walau ada beberapa adegan dimana Alfiah akhirnya menangis. Padahal perempuan yang sedang hamil itu emosinya cenderung labil. Apalagi pada saat itu hamil dengan kondisi ditinggal suami dan harus mengasuh anak-anak yang masih kecil. Apa mungkin perempuan jaman dulu cenderung nrimo. Entahlah.

Beberapa percakapan dan deskripsi menggunakan bahasa daerah, yang kadang tidak saya pahami. Warna cover cenderung tidak terlalu menarik sehingga saya mendapat kesan bahwa buku ini kaku. Selebihnya semua yang ada dalam buku ini bisa saya nikmati secara keseluruhan.

Rempoa, 6 Juni 2015

Advertisements

8 thoughts on “Sisi Lain Seorang Jenderal Soedirman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s