Islam Menurut Pandangan Saya

Seperti yang pernah saya tulis dalam status facebook kemarin bahwa saya sama sekali tidak punya kapasitas untuk menulis tentang Islam, agama yang telah saya pilih sejak saya lahir. Saya tidak tahu banyak tentang Islam karena ibadah saya juga masih belum benar dan sempurna. Namun akhir-akhir ini ada yang mengusik saya soal Islam. Tidak, saya tidak akan menghujat siapapun di tulisan saya ini. Hanya mengungkapan pemikiran saya sendiri.

Intinya begini, “Islam yang saya anut tidak seperti itu. Bukan seperti itu. Bukan kaya gitu.”Usik kata hati saya ketika saya mau nggak mau atau tanpa sengaja membaca hal-hal yang tidak berkenan mengenai Islam di sosmed. Mudah sekali mengkafirkan orang, mudah sekali menentukan surga neraka-nya seseorang, mudah sekali bilang suatu bencana itu adalah azab Allah dan mudah sekali menggunakan kekerasan atas nama Islam kalau ada yang bertentangan dengan aturan mereka, yang konon katanya itu adalah aturan Islam.

Sejak kecil saya diperkenalkan dan belajar Islam sama sekali tidak dengan kekerasan. Tidak dengan mengkafirkan atau menentukan surge neraka seseorang. Alm. Eyang kakung adalah seorang ustadz namun beliau mengajari saya bagaimana menghayati rukun Islam dengan baik dan benar karena seorang muslim wajib menjalankan rukun Islam dengan baik. Bagaimana mengamalkan setiap doa yang beliau ajarkan kepada saya sambil diimbangi dengan kerja keras. Dan bagaimana mengasihi terhadap sesama dengan kasih sayang dan toleransi yang tinggi. Islam seperti itulah yang diajarkan Eyang Kakung terhadap saya.

Beliau tidak pernah memaksakan kehendak bahwa setiap anak cucu mantu perempuannya harus berjilbab. Tidak. Semua dengan kesadarannya masing-masing. Saya mengenakan jilbab sejak kelas 1 SMA karena membaca sebuah buku Islam dengan segala dahlil2nya yang mengatakan bahwa perempuan yang sudah baligh wajib berjilbab. Tidak dengan paksaan dan anjuran siapa-siapa. Bahkan papa jauh sebelumnya, ketika saya kuliah dulu, sudah wanti-wanti sama saya untuk tidak terlibat debat kusir yang tidak ada manfaatnya. Apalagi mengenai agama Islam. Menjalankan Islam itu termasuk prinsip pribadi masing-masing tidak perlu didebat, cukup dihargai saja. Islam telah mengajarkan toleransi terhadap non muslim, maka sesama muslim juga harus menjujung tinggi toleransi, semata-mata demi kerukunan hidup.

Contoh terdekat adalah saya dan suami. Saya hidup dengan tata cara Islam NU sementara suami terbiasa dengan tata cara Islam Muhammadiyah. (Saya mengetahui suami saya Muhammadiyah itu setelah menikah). Mungkin kalau tidak ingat ajaran toleransi yang telah diajarkan Eyang saya, kami akan terus berdebat bahkan bertengkar mengenai prinsip ibadah masing-masing. Hanya saja Alhamdulillah selama empat tahun hidup bersama, sampai sekarang kami masih menghargai dan menghormati prinsip masing-masing. Terkadang kami memuji prinsip masing-masing. Suami saya yang posisinya sebagai pemimpin rumah tangga memang punya kuasa untuk menarik saya untuk mengikuti prinsip agamanya. Tapi sampai sekarang suami saya tidak pernah melakukan itu.

“Menikah itu bukan mengubah semua kebiasaan kita dari lahir. Walau ayah punya kuasa atas itu. Cuma ayah pengen bunda menjalankan ibadah dengan nyaman. Bunda nyaman dengan prinsip seperti itu. Yaudah. Toh NU dan Muhammadiyah sama-sama Islam. Jadikan perbedaan itu indah, bun.” Begitulah kata suami saya.

Suami saya teringat pada salah satu adegan film tentang Kyai Ahmad Dahlan. Suatu ketika ada yang bertanya tentang aturan peringatan tujuh hari orang meninggal. Boleh tidak hal itu dilaksanakan dengan menyediakan beberapa makanan untuk dipajang di depan rumah.

“Hooo boleh. Boleh seperti itu tapi makanannya di bagi-bagi yaa ke tetangga dan jangan lupa sambil mendoakan yang telah meninggal.” Begitulah jawaban Kyai.

Jujur sampai sekarang adegan itu yang masih membekas dalam ingatan saya. Kagum. Seperti itulah yang dinamakan Islam masuk bukan berarti harus membuang kebiasaan lama atau menghilangkan budaya itu sendiri. Justru budaya tersebut tetap dijaga. Maka seperti itulah para Wali Songo mengenalkan dan menyebarkan ajaran Islam di Nusantara.

Jadi saya ingin pancasila ya tetap pancasila toh selama beratus tahun pahlawan2 kita berjuang juga hasilnya adalah pancasila bukan sistem ke khalifahan yang sekarang lagi marak di demo2in. Konon katanya kalo nggak pakai sistem itu Indonesia bakal kena azab. Lah terus kenapa gitu ketika bangsa Indonesia berjuang melawan penjajahan dulu mereka yang teriak sistem khalifah juga gak berjuang dari dulu. (iyalah karena mereka ada yang belum lahir) Nggak bertaruh nyawa. Baru sekarang ketika sudah merdeka dan reformasi teriak-teriak ganti sistem khalifah. Coba yang teriak seperti itu silahkan atuh baca-baca buku sejarah perjuangan Indonesia (kebetulan saya sekarang sedang baca buku Jenderal Soedirman) dan baca buku sejarah kekhalifahan. Maukah mereka bertaruh nyawa ketika harga nyawa lebih murah dibandingkan harga diri. Bisakah akhlak mereka sebaik Abu Bakar ash Siddiq sampai Ali bin Abi Thalib. Bisakah? Saya yakin yang teriak-teriak hukum Islam dan ketika korupsi juga ogah dipotong tangannya sampai habis.

1512415_10205060893815931_1749135778288941991_n

Ada beberapa pemikiran saya yang sejalan dengan tante saya yang suka santer menghujat aliran-aliran Islam yang tidak sesuai dengan pemikirannya dan budaya Islam di Indonesia. Saya tidak ikut menghujat seperti tante saya itu. Koreksi diri saja toh ibadah saya belum tentu benar dan sekali lagi, saya belum tahu lebih dalam tentang semua ajaran Islam. Kapasitas saya hanya menjalankan ibadah sesuai dengan aturan Islam yang telah saya pelajari dan berbuat baik kepada sesama.

Namun kakak saya suatu hari bilang sama saya dan mama.

“Islamnya si tante itu aneh.” Kata kakak saya.

“Aneh gimana?” Tanya saya karena saya melihat memang tidak ada yang aneh selama ini sama si tante. Biasa saja malah beberapa ada yang satu pemikiran dengan saya.

“Huss udahlah kita nggak punya kapasitas untuk menilai Islam seseorang begini begitu. Kita belum tau banyak tentang Islam dan masih harus terus belajar. Jangan komen aneh-aneh yang bukan kapasitas kita.” Mama langsung mengingatkan kami. Dan saya pun tidak bertanya lebih banyak lagi sama si kakak.

Hingga suatu sore saya menemukan status si tante di sosmed tentang banyaknya pelecehan seksual di negara Islam daripada di negara barat. Saya menulis di komentar tentang pengalaman sepupu saya yang pernah hampir jadi korban pelecehan seksual di bis. Nah tante pun juga cerita tentang pengalamannya jadi korban pelecehan seksual di bis juga. Si tante ternyata keren juga ngadepinnya. Lebih galak hahaha. Seperti biasa ujung-ujungnya diskusi hehehe. Kali ini diskusi tentang pakaian wanita. Tapi ada satu hal yang saya sadari tentang kata-kata kakak tempo hari, karena tante bilang

“Menurut si anu (menyebutkan ustadz terkenal dan saya juga termasuk pengagum ustadz tersebut) kalau berjilbab itu tidak wajib. Asal sopan mah nggak apa-apa. Jilbab itu budaya arab bukan budaya Indonesia.” Begitulah komennya

Saya terhenyak membacanya dan menyadari sesuatu. Yaa terserah sih mau jilbab apa nggak. Silahkan senyamannya deh. Tapi setahu saya jilbab itu bukan budaya arab tapi pakaian wajib seorang muslimah. Tidak mau mendebat karena memang hal seperti ini nggak penting untuk didebat di samping saya masih sangat menghormati tante sebagai salah satu orang tua saya.  Lagipula dari awal niatnya diskusi bukan debat aneh-aneh.

Rempoa, 3 Juni 2015

saya.  Lagipula dari wal niatnya diskusi bukan debat aneh-aneh.

Rempoa, 3 Juni 2015

Advertisements

8 thoughts on “Islam Menurut Pandangan Saya

  1. Cara pandang setiap orang terhadap agama yang diyakininya memang berbeda-beda. Apalagi semakin lama jumlah manusia semakin bertambah (Indonesia saja laju pertumbuhan penduduknya pesat banget lho). Jadi jangan heran kalau beberapa tahun ke depan semakin banyak ragam penafsiran agama yang menuai pro dan kontra.

    Sejatinya kalau sudah begini kita harus mendekatkan diri pada Tuhan dan tetap menjaga hubungan baik dengan sesama manusia…

    Like

    1. yup tetap menjaga hubungan baik kepada sesama manusia apapun perbedaannya juga menjaga hubungan baik kepada Tuhan dengan sepenuhnya menjalani keyakinan kita masing2 dengan baik ya

      trims sudah mampir

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s