Cerbung: Leluka Hanna #1

Intro si tukang ngarang:

Tulisan pertama setelah tiga tahun lebih vakum menulis. Ternyata memang tidak bisa melepaskan hobi yang satu ini seumur hidup. ada kalanya saya kangen sekali tapi nggak yakin bisa menulis selancar dulu. Dan sekarang kembali pede karena ayah meyakinkan saya bahwa saya masih mampu menulis. Ini pun karena pengaruh sahabat saya juga yang penulis. Akhirnya dengan modal dua dukungan itu, saya kembali menulis dan Alhamdulillah masih bisa walau terkadang nulisnya sambil mangku Aliya hehehe. Semoga bisa menyelesaikannya sampe ending. AMIN

Leluka Hanna

Serasa dunia berhenti berputar saat mendengar pernyataan Izzat sehingga Hanna terdiam, tidak bisa mengatakan apa-apa. Jika bisa, Hanna ingin segera menghilang tanpa harus meninggalkan sepatah kata pun untuk Izzat. Dia sama sekali tidak menginginkan pernyataan itu keluar dari mulut Izzat. Tidak sama sekali. Kalau saja dia tahu Izzat akan menyatakan seperti ini pada akhirnya, dia tidak akan mau diajak makan siang di luar kampus. Untung saja makanan yang dipesan sudah habis, kalau belum, bisa jadi selera makannya akan menguap begitu saja.

“Gimana?”Tanya Izzat membuyarkan lamunannya.

“Gimana apanya?”Hanna balik bertanya karena memang dia tidak tahu harus menjawab apa.

Seandainya pernyataan itu keluar dari mulut Reyhan, mungkin semuanya akan lebih mudah bagi Hanna. Mengulang masa lalu yang belum selesai dengan tuntas bersama Reyhan, itulah satu-satunya yang Hanna inginkan sekarang. Tapi pernyataan Izzat kali ini benar-benar di luar perkiraannya.

“Ya… kamu mau jadi pacar aku? Aku serius sama perasaan aku ke kamu.”Sekali lagi Izzat menegaskan perasaannya.

Tapi aku nggak punya perasaan apa-apa sama kamu. Aku cuma inginkan sahabatmu, Reyhan. Sayangnya kata-kata itu hanya bisa Hanna ucapkan dalam hati. Diam-diam Hanna heran, kenapa bisa begini padahal selama ini bukannya Izzat mengetahui tentang perasaannya terhadap Reyhan. Bahkan tahu persis seberapa dalam perasaannya terhadap sahabatnya itu.

“Aku.. yaa aku nggak tahu.”Jawab Hanna sekenanya sambil memaksa tersenyum.

“Kok nggak tahu?”

“Aku yakin kamu tahu alasannya. Apa aku harus bilang sama kamu?”

“Reyhan.”Jawab Izzat terdengar sinis. “Dia udah ninggalin kamu sejak tiga tahun yang lalu dan selama tiga tahun itu dia udah jadi pacar orang lain. Kenapa sih kamu masih aja nggak bisa terima kenyataan.”Izzat mengingatkan Hanna dengan nada kesal.

“Tapi bukan berarti kamu bisa maksain perasaan kamu ke aku.”Hanna mulai berani menatap mata Izzat. Dia tidak suka Izzat mengingatkannya tentang itu. Walau dia tahu tapi hal itu sangat menyakitkan baginya.

“Asal kamu tahu, Reyhan pun mau kita jadian.”

Kali ini Hanna semakin kesal. Apa tadi? Reyhan menginginkan dia jadian sama Izzat. Nggak salah. Hanna tersenyum sinis. “Cara yang salah.”Gumam Hanna pelan.

“Tapi aku nggak main-main sama perasaan aku, Han. Aku serius dan aku.. aku sayang sama kamu.”

“Cukup, Zat. Aku capek. Permisi.”Pamit Hanna langsung beranjak pergi tanpa menghiraukan Izzat. Langkahnya terus dipercepat bahkan setengah berlari agar Izzat tak mampu lagi mengejarnya.

# # #

BERSAMBUNG

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s