Ketika Kamu Kehilangan Duniamu

Malam itu seperti malam-malam sebelumnya, setelah mengeluh tidak bisa menulis puisi lagi karena alasan pekerjaan yang sangat menyita waktu dan pikiran, kamu lalu main game. Terus seperti itu hingga akhirnya saya jengah dan bête karena merasa dicuekin. Kesabaran saya malam itu habis melihat kamu main game terus tanpa mempedulikan kehadiran saya dan Aliya di rumah.

Saya protes. Tengah malam setelah Aliya tidur kita bertengkar. Ujung-ujungnya kamu untuk tidak pegang hp, main game, dan tidak menulis puisi lagi. Keesokan paginya kamu hanya diamkan saya dan menyindir saya tentang tidak bisanya lagi kamu menulis puisi. Diam-diam saya merasa bersalah juga dan risih terus dipersalahkan sama kamu.

Mungkin memang saya yang salah, seharusnya malam itu saya tetap membiarkan kamu asik dengan duniamu sendiri. Seandainya saya bisa lebih sabar maka pertengkaran itu tidak mungkin terjadi. Pelan-pelan saya akhirnya minta maaf. Kamu nggak marah lagi sama saya. Semua berjalan seperti biasanya. Saya yang repot sama tugas saya sebagai ibu rumah tangga sementara kamu tetap sibuk dengan rutinitas kamu mencari nafkah. Iya, semua berjalan seperti biasa. Saya dan kamu tetap saling mendukung demi keharmonisan kita.

Namun saya merasa kamu benar-benar kehilangan duniamu yang dulu atau lebih tepatnya saya kehilangan kamu yang kemarin. Kamu yang kalau pulang kerja suka menyendiri, mencari inspirasi menulis di teras sambil merokok dan ngopi. Kamu yang sibuk bicara tentang puisi kamu dan maknanya. Dan kamu yang suka ngegame gak kenal waktu sampe kadang kamu lupa tidur. Saya semakin merasa bersalah. Cinta itu harusnya nggak seperti ini. Nggak egois kayak gini. Kamu mengalah sama saya tapi bukan berarti kamu harus menghilangkan semua kesenangan kamu. Bukan.

“Ayah jangan kayak gini. Gak apa-apa main game lagi. Bunda janji nggak akan ngusik ayah lagi. Maaf. Bunda yakin ayah juga masih bisa kok nulis puisi lagi.”Kata saya pada suatu malam.

“Udah nggak mood, bun. Kerjaan ayah yang bikin pusing nih. Udahlah jangan dibahas tentang itu lagi.”

“Yaudah terserah ayah tapi besok-besok kalo ayah mau main game sepuasnya yaa gak apa-apa. Cuma jangan sampe lupa tidur yaa.”Bujuk saya lagi.

Saya benar-benar nggak mau kamu seperti ini. Entah sampai berapa lama lagi saya dihinggapi rasa bersalah terus ketika kamu berada di rumah. Sedih dan suka nangis sendiri. Semua ini gara-gara saya.

Untungnya beberapa hari kemudian kamu kembali main game lagi. Sesukanya kamu. Malah kadang sambil memeluk saya. Hanya saja rasa bersalah itu masih juga belum hilang sepenuhnya. Apalagi ketika kamu mengeluh tentang betapa rindunya kamu dengan puisi tapi masih nggak bisa menuisnya lagi. Kali ini kamu sama sekali tidak menyalahkan saya tapi mengeluhkan pekerjaanmu.

“Jangan dipaksakan, Ayah. Bunda pun juga udah tiga tahun lebih nggak bisa nulis. Paling yaa cuma nulis blog doang. Tuh juga baru mulai beberapa bulan yang lalu.”Kata saya menenangkannya.

Kamu dan puisi memang tidak bisa dipisahkan. Bahkan kamu mengenal puisi jauh sebelum mengenal saya. Jadi saya bisa memahami betapa down-nyya kamu yang tidak bisa lagi menulis puisi. Tapi pelan-pelan saya lihat kamu mulai menulis status facebook dengan gaya puisi. Hampir mirip puisi walau pun kamu bilang itu bukan puisi.

“Walaupun bukan puisi tapi bunda bisa bilang kalau beberapa status ayah itu digabung dan diedit dengan rapih. Pasti jadi puisi lagi.”Kata saya terus meyakinkan kemampuannya.

Sayangnya kamu masih saja tidak percaya diri. Yasudah saya menyerah. Toh jika Allah mau mendatangkan kemampuannya lagi menulis puisi maka terjadilah. Memang nggak bisa dipaksa. Hanya saja rasa bersalah ini tetap gak mau pergi. Padahal kamu sudah tidak mempermasalahkannya.

Sampai suatu hari setelah gajian kamu membelikan saya pulsa paket data modem. Asalannya simple agar saya nggak merasa jenuh banget di rumah dan bisa dengan leluasa menulis blog ataupun blog walking.

“Main game juga boleh kan?”Tanya saya iseng padahal nggak minat.

“Boleh aja kalo itu makin bikin bunda betah di rumah. Tapi coba deh mulai nulis cerita lagi, bun.”Pinta ayah.

Hanya saja yang terakhir itu saya nggak yakin. Suatu siang saya coba-coba main game favorit saya di facebook sebelum nikah. Ternyata saya kangen juga main game. Kadang kalo internet lagi lemot malah saya iseng nulis cerita dan Alhamdulillah saya masih bisa nulis cerita lagi walaupun ujung2nya malah jadi cerita bersambung, bukan cerpen. Saya terus main game di sela waktu luang saya. Sejak suka ngegame pun saya malah jarang keluar rumah. Keluar paling cuma buat belanja atau nganter anak sekolah.

Sampai suatu Minggu di bulan Mei saya minta password facebook kamu buat kelancaran game saya. Password dikasih dan saya main game di dua akun. Akun saya dan akun kamu tanpa memperhatikan detail wall facebook kamu. Sampai kamu pulang kerja besok tiba-tiba.

“Ya Allah bunda facebook ayah kok penuh dengan game. Sampe ayah nggak tau kalo puisi ayah tuh dimuat di Koran tau. Ada tuh yang tag di facebook ayah tapi udah ketutup sama game bunda.”Tegur kamu.

“Kok bisa? Lah bukannya ayah udah gak nulis puisi lagi yaa..”kata saya sambil nyengir.

“Itu puisi ayah dua bulan apa tiga bulan yang lalu ayah kirim. Di dua Koran lagi, bun.”Katanya semangat.

“Honornya masuk ke rekening bunda kan?”

“Kebiasaan ujung-ujungnya honor. Dasar emak2.”

“Hahahaha selamat yaaa ayah horee tuh kan ayah masih bisa eksis kan di puisi. Apa bunda bilang.”Kata saya girang setengah mati.

“Tapi lain kali kalo main game pake akun ayah yaa jangan di share lagi ya di wall.”kata kamu member syarat.

“Okeh.”

Dan sejak hari itu maka kamu kembali ke dirimu yang dulu. Memiliki dunia sendiri yang mungkin tidak dimengerti oleh orang lain. Saya pun juga tidak gampang mengerti dunia kamu padahal dunia kita sama. Sama2 suka menulis. Hanya saja kamu lebih maniak. Namun kali ini saya bahagia melihat kamu tengah malam menyibukan diri nulis puisi. Melihat kamu menyendiri lagi. Ya saya sangat bahagia. Nggak apa-apa dicuekin asal semua kesenanganmu kembali. Dan rasa bersalah itu akhirnya benar-benar pergi.

Ayah, terima kasih telah memotivasi bunda untuk menulis lagi. Dan ternyata bunda masih bisa menulis. Terima kasih, yaa…

Advertisements

2 thoughts on “Ketika Kamu Kehilangan Duniamu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s