Melepas

Ingat tulisan ini ketika saya mendengarkan lagu Dewi Lestari – Peluk. Ah ternyata saya masih menyimpan tulisan saya dulu, yang pernah saya muat di Multiply dan ini tulisan murni curcolan saat lagi galau, Alhamdulillah setelah galau kejadian ini, saya pun dipertemukan dengan orang yang tepat, yang telah menjadi suami saya sekarang. Hanya mengenang dan tidak bermaksud apapun

Dua hari yang lalu lagi-lagi saya harus bertemu dengan kata melepas untuk kesekian kalinya. Tetapi kali ini saya merasa lebih siap menghadapinya. Semoga ini pertanda bahwa saya ikhlas melepas sesuatu yang harus saya lepaskan ketimbang saya harus bergelut dengan kemudorotan.

Bagian tersulit dalam hidup saya adalah ketika saya harus mempraktekan kata melepas, melepas apapun yang telah menjadi kesenangan, kesayangan, dan penyempurna hidup saya. Saya sadar semua butuh proses, semua butuh pembelajaran sehingga kata melepas benar-benar sempurna saya jalankan.

Dalam kasus ini saya samakan dengan masa kecil saya dulu. Ketika saya harus melepas botol susu kesayangan saya untuk digantikan dengan gelas, konon kata kedua orang tua karena saya sudah besar dan nggak pantas lagi minum susu dari botol. Respon saya kala itu adalah menangis sejadi-jadinya, marah sama orang tua saya, berhari-hari pasang muka cemberut dan saya kecil mendadak jadi seorang anak yang cengeng akibat pemisahan dengan botol susu.

Pelan-pelan orang tua saya mengalihkan pikiran saya dari botol susu. Setiap ada iklan susu yang mana si anak minum di gelas. Mereka pasti bilang kalau saya minum susu di gelas, saya akan masuk TV seperti si anak dalam iklan susu tersebut. Lalu mereka mengajak saya piknik ke tempat-tempat favorit saya semasa kecil dan hampir setiap sore mereka mengajak saya ke taman komplek perumahan tempat saya tinggal dulu. Sekeras mungkin mereka mengalihkan perhatian saya sampai akhirnya saya bisa melupakan botol susu kesayangan saya dan pelan-pelan menerima gelas sebagai gantinya.

Kata melepas bisa jadi sebagai salah satu materi pembelajaran yang dikirimkan oleh Allah menuju kedewasaan. Hanya saja kasus dan kadarnya berbeda. Tergantung sampai titik mana saya harus dewasa, sampai titik mana saya harus berkata ikhlas.

Sebenarnya sudah dari dua minggu yang lalu saya mengambil keputusan melepas, namun saya belum bisa menjalankan konsekuensinya. Saya masih saja menunggu, mencari, merindukan objek melepas tersebut padahal saya tahu itu akan berbuah sebuah kekecewaan namun saya menikmati semuanya. Sampai sahabat saya menegur dengan lantang dan tegas.

Sempat saya tertegun dan bertanya pada Allah, ini pemberianMU lalu mengapa saya harus melepasnya. Ini kesenangan saya, harapan saya, mimpi saya, mengapa saya harus melepasnya. Bukankah kita tidak tahu bagaimana masa depan kita dan apa yang terjadi di kemudian hari. Saya yakin tanpa saya melepas, semua akan berubah.

Awalnya saya tidak tahu apakah itu ego atau suara hati saya. Saya dilema. Padahal di kitab mana pun bahkan dalam kitab keyakinan saya jelas-jelas menyebutkan bahwa saya harus melepas. Diam-diam saya menyembunyikan keresahan saya. Diam-diam juga saya menelaah arti sebuah kehidupan yang akan saya jalani kelak. Keinginan saya. Mimpi saya. Kesenangan saya. Hingga berujung kepada bahwasannya di masa depan saya ingin hidup bahagia tanpa terusik apapun. Bahwa sebagai wanita saya ingin dimuliakan, dijaga hatinya serta kehormatannya.

Untuk beberapa hari lamanya saya terus meminta petunjuk hingga akhirnya berujung dengan kepasrahan. Suatu hari, dalam diam saya, entah darimana datangnya, muncul kata MELEPAS tiba-tiba. Tanpa rasa sakit atau kekecewaan dengan tidak memungkiri rasa kehilangan. Herannya saya menikmati semua konsekuensi yang ada.

Kini saya paham, bahwa melepas tidak hanya melepas saja. Tak hanya butuh ego, napsu, dan emosi sebuah harga diri tapi juga butuh keikhlasan menjalani konsekuensinya agar tidak ada rasa sakit semata. Tentu saja terus berkomunikasi dengan Allah, karena Dia yang akan menjaga kita dari kezoliman yang ada di muka bumi ini.

Dan melepas masih saja menjadi bagian tersulit dalam hidup saya!

Jakarta, 28 Januari 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s