Dia Dalam Kenangan (Eyang Kakung)

NB: Repost sih sebenarnya lima tahun yang lalu sudah saya post di blog Multiply yang telah tewas itu dan sempat post di note pesbuk buat ikutan lomba (tapi gak menang). Hanya saja bulan ini masih dengan tema haul Eyang Kakung jadi saatnya mengenang beliau dari tulisan saya ini.

Tentang Eyang Kakung

Tahajud dan doa. Dua ibadah itu yang selalu saya ingat ketika terbesit kata Eyang Kakung di benak saya. Beliau mengerjakan Tahajud dan Dhuha seperti mengerjakan sholat wajib. Tak pernah jauh dari tasbih. Beliau pun tidak pernah memaksa anak dan cucu-cucunya beribadah seperti dia beribadah, hanya menyuruh untuk sholat lima waktu saja.

Jika saya sedang menginap di rumah Eyang atau Eyang sedang menginap di rumah saya, saya selalu menemukan beliau di tengah malam sedang khusyu berdoa. Bermunajat kepada-Nya. Ada ketenangan ketika melihat beliau seperti itu dan saya sering kali berharap pada diri saya sendiri, semoga bisa seperti Eyang, yang hampir tiap hari tidak pernah meninggalkan sholat malam.

Dalam situasi apapun, Eyang selalu saja mengerjakan sholat lima waktu di Mesjid. Tidak peduli panas mau pun hujan. Beliau mengatakan justru dalam cuaca yang tidak menentu itu, selalu saja ada kenikmatan ketika sampai di Mesjid. Beliau memang bukan kyai, hanya seorang Ustadz yang selalu menjadi iman sholat di Mesjid. Saya sampai hapal setelah sholat subuh di Mesjid, beliau selalu jalan-jalan pagi keliling kampung. Menyapa penduduk dengan keramahannya. Terus seperti itu sampai beliau sakit dan tidak kuat untuk berjalan lagi bahkan Sholat Jum’at pun akhirnya harus memakai kursi roda.

Saya ingat beberapa waktu lalu, masih dalam keadaan sakit, dia menghampiri saya dengan membawa buku majmu syarif. Dia menyuruh saya untuk selalu membaca doa yang dia tunjukan dalam buku itu setiap hari, setiap habis sholat. Setelah itu, sampai sekarang, sampai dia hanya bisa melafazkan nama Allah, tak pernah lagi dia menganjurkan doa yang dia temui kepada saya. Diam-diam saya merasa bersalah karena suka lupa untuk baca doa itu setelah sholat. Ya, cucumu yang cantik ini masih saja lalai dalam beribadah.

Jujur, saya tidak terlalu dekat dengan Eyang Kakung maupun Eyang Putri. Saya tidak pernah curhat apapun dengan mereka, hanya saling bercerita dan mendengarkan setiap petuah-petuah mereka. Saya merasa ada jarak sama mereka dan saya tahu penyebabnya apa. Tetapi saya yakin mereka sayang sama saya dan saya selalu ada dalam doa mereka, terutama doa Eyang Kakung. Saya bisa melihat sayang yang begitu dalam dari sorot matanya. Mungkin mereka bukanlah tipe orang yang mudah mengumbar kata sayang.

Saya selalu senang menggenggam tangan Eyang Kakung. Terasa sejuk. Mungkin hawa orang sholeh. Pikir saya. Kalau saya datang ke rumah Eyang, beliau selalu meminta dipijitin tangannya sama saya, sembari memijit, beliau dengan tulus memuji pijitan saya yang selalu enak (padahal saya kan nggak pintar memijit). Kadang juga sambil mendengar nasehat-nasehat yang terlontar dari bibirnya atau mendengar cerita tentang masa mudanya dulu, tentang papa waktu kecil.

Eyang Koma

Untuk kesekian kalinya saya mendapat kabar Eyang masuk Rumah Sakit, saat itu beliau harus transfusi darah karena HB-nya turun dratis dan saat itu juga saya melihat Eyang semakin kurus, lemah tak berdaya padahal dulu beliau gagah. Kanker hati telah merengut tubuhnya perlahan. Saya miris melihatnya tanpa ingin menangis. Saat seperti itu dia selalu saja beribadah, selalu saja sholat. Tidak peduli berapa banyak selang infus menempel di tangannya. Saya tertegun melihatnya, saya takjub akan istikomahnya. Dia begitu mencintai Allah. Saya ingin seperti beliau tetapi masih harus belajar banyak.

Eyang Tidak Sadarkan Diri

Sungguh hancur hati saya ketika siang itu diberi tahu bahwa Eyang sudah tidak sadarkan diri. Entah bagaimana awalnya. Waktu itu sepupu kecil saya yang bernama Ziyad pulang sekolah (Ziyad masih kelas dua SD). Seperti biasa dia menyapa Eyang yang sedang duduk di sofa ruang tengah dan mencium punggung tangan beliau. Tetapi tidak ada respon sama sekali. Tatapan matanya kosong.

“Eyang… eyang..” Berkali-kali Ziyad memanggil beliau tapi tetap tidak ada respon. Ziyad panik. “Eyang jangan mati dulu, Yang.” Pinta Ziyad, seorang anak kecil yang masih polos.

Dan sejak saat itu Eyang tidak sadarkan diri. Kami semua, anak dan cucu beliau menangis. Tiba-tiba dengan sekuat tenaga Eyang berusaha menyadarkan dirinya hanya untuk bilang jangan menangis kepada kami. Nada suaranya lemah dan pelan sekali namun terdengar tegas. Setelah itu beliau kembali dalam komanya.

Saya hanya berharap yang terbaik untuk beliau. Allah sedang mengangkat dosanya dalam sakitnya. Sudah dua hari belakangan Saya terpukul melihat keadaannya kemarin. Eyang Putri cerita pada saya bahwa belakangan kesehatannya terus menurun, tidak ada perkembangan yang berarti.

Beliau juga enggan dibawa ke rumah sakit karena lebih nyaman di rumah. Atas dasar kondisi kejiwaan beliau kami sepakat tidak membawanya ke Rumah Sakit. Kami semua juga tidak tega Eyang bertambah sakit karena peralatan Rumah Sakit yang mungkin akan lebih banyak menempel pada tumbuhnya. Demi membuat beliau bertahan hidup lebih lama.

Dalam ketidaksadarannya dia gelisah, hanya bisa menyebut asma Allah pertanda dia mengeluh kesakitan. Saya hanya bisa membacakan yasin atau sesekali membisikan syahadat ke telinganya dan meminta kepada Allah supaya Eyang diberikan kekuatan dalam menghadapi semua ini dan diberikan yang terbaik untuk beliau. Saya juga bilang sama Eyang bahwa saya begitu merindukannya.

Hari Kedua Eyang Koma

Karena sakit perut akibat datang bulan, saya tidak bisa ke rumah Eyang. Saya pikir besok juga masih ada waktu untuk membacakan yasin buat beliau. Ternyata sepanjang hari pikiran saya terfokus ke Eyang. Saya sampai menangis tanpa sadar memikirkan kondisi Eyang. Begitu berat buat saya.

Saya memutuskan untuk menulis tentang Eyang Kakung yang saya berikan judul “Keteladanannya”. Jujur, selama saya menulis, saya tidak berhenti berdoa untuk beliau bahkan lagi-lagi air mata saya tidak dapat dibendung. Selama menulis saya terus menangis. Ada rasa sesal juga karena baru pertama kali saya menulis tentang Eyang Kakung. Setelah selesai menulis, saya posting tulisan tersebut di facebook dan blog saya. Lalu saya tag semua sepupu saya, papa, om, dan tante saya.

Kepergian Eyang Kakung

“Kehilangan” kata itu baru pertama kali saya alami dengan begitu dalam. Sehingga sampai sebulan lebih kepergian Eyang, saya masih berduka. Walaupun saya berusaha menghibur diri saya dengan menulis, main game, online, becanda dengan teman-teman namun tetap saja saya merasa hampa.

Hari Sabtu, tepat tanggal 20 Februari 2010 pagi, saya kehilangan seorang teladan yang selama ini saya banggakan, seorang ahli ibadah, ustadz bagi kami semua, yaitu Eyang Kakung. Ketika diberi kabar bahwa Eyang telah tiada, saya mengucap syukur karena beliau akhirnya terlepas dari penderitaan komanya selama tiga hari. Saya kira saya akan kuat menghadapinya tanpa air mata, seperti saya kehilangan kakek beberapa tahun lalu.

Ternyata saya tidak kuat, Beberapa menit setelah kabar itu, saya mengeluarkan air mata tanpa bisa berhenti. Isak tangis saya tahan karena tangisan akan memperlambat jalannya eyang ke sana. Saya tidak mengerti dengan kerapuhan diri saya atas kepergian eyang. Padahal kemarin, saat eyang masih koma, saya sudah menyatakan diri ikhlas apapun yang terbaik untuk eyang. Ternyata sulit sekali untuk saya. Entahlah.

Ketika dalam keramaian pelayat, ketika saya bersama sepupu-sepupu saya, tante-om saya kemarin, saya tidak menangis bahkan saya bisa becanda bersama mereka. Kadang kami tertawa mengenang canda-tawanya eyang.

Eyang kakung suka jahil sama kami semua. Saya ingat, waktu kami sedang cerita horor di malam hari, tiba-tiba beliau datang dan menakuti kami dengan suaranya. Atau kalau ada sepupu kecil saya yang sedang ngambek, dia pasti tidak henti-hentinya meledek. Itu hanya sebagian kecil dari kejahilan eyang yang membuat kami tertawa mengenangnya. Terlebih lagi ketika kami semua ingat kalau eyang suka dengan sinetron dan film india. Beliau bahkan hapal jalan cerita sinetron terpanjang di Indonesia yakni Tersanjung.

Tetapi ketika saya harus mencium jenazahnya untuk terakhir kali. Sungguh saya tidak kuat. Saya menjadi orang yang sangat rapuh pada saat menatap dan mencium jenazahnya. Saat itulah saya sadar betapa saya sangat menyayangi eyang. Hancur hati saya.

Walau tidak begitu dekat dengan eyang namun tanpa saya sadari saya sangat menyayangi beliau. Dari senangnya saya menyambut bulan Desember karena pada tanggal 25 Desember beliau berulang tahun. Saya suka memberi tahu mama dan mengajak kedua orang tua saya untuk bersama-sama menunggu ulang tahun beliau hanya untuk meneleponnya dari Cirebon lalu mengucapkan selamat ulang tahun pada beliau. Selalu seperti itu setiap tahunnya.

Baru tahun kemarin saya bisa mengucapkan selamat ulang tahun langsung sama eyang karena kami sekeluarga sudah pindah ke Jakarta. Bahkan tepat di ulang tahunnya dia main ke rumah. Menikmati kue bolu keju buatan mama. Saya memang meminta mama bikin kue untuk ulang tahun eyang. Saat itu saya antusias mempersiapkannya tetapi nyali saya ciut ketika eyang sudah ada di rumah. Saya malu untuk bilang kalau saya selalu mengingat ulang tahunnya. Mama yang menyampaikan semuanya ke beliau dan saat mama menyampaikan, bodohnya saya malah pura-pura sibuk dengan laptop.

Seandainya saya tahu ulang tahun itu adalah ulang tahun terakhirnya dan seandainya saya tahu saat itu adalah kunjungan terakhirnya ke rumah. Maka saya akan menyingkirkan rasa malu saya untuk mengakui bahwa setiap tahun saya selalu menanti ulang tahunnya pada beliau. SEANDAINYA…

Dalam perjalanan menuju peristirahatan terakhir beliau, papa bilang sama saya kalau tulisan saya tentang eyang di blog dan facebook sudah disampaikan kepada beliau, papa bilang beliau mengeluarkan air mata ketika mendengarnya. Saya hanya bisa diam ketika papa cerita soal itu, bergelut dengan batin saya sendiri. Dalam hati saya mengucapkan syukur, setidaknya eyang tahu betapa saya sangat menyayangi beliau.

Saya bersyukur bahwa saya diberi kesempatan untuk merayakan ulang tahunnya secara langsung untuk yang pertama dan terakhir kali, saya bersyukur sempat ada pada masa-masa sakit beliau, saya bersyukur eyang pergi dengan muka tersenyum, dan saya bersyukur kepergiannya adalah pelajaran kehilangan yang sangat berharga bagi saya.

Sekali lagi, saya sangat menyayangi beliau….

Tebet, Februari 2010

Advertisements

2 thoughts on “Dia Dalam Kenangan (Eyang Kakung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s