Bekerja Atau Tidak

Berkali-kali saya melihat brosur rumah yang baru saja kami dapatkan dari salah satu kantor pemasaran sebuah perumahan yang sedang dibangun. Sempat juga melihat rumah contohnya sih. Mupeng banget karena desainnya minimalis. Desain rumah idaman saya. Tapi ketika melihat harga cash rumah, cicilan per bulan, dan DPnya saya jadi menyerah. Iyalah cicilan per bulannya aja sudah melebihi gaji si ayah dan tidak dapat subsidi sama sekali. Apalah daya keinginan belum sesuai dengan kemampuan.

“Ayah, bunda kerja aja yaa, yang gaji bulanannya minimal UMR gak apa-apa kok” usul saya.

“Kenapa kok pengen kerja?”Tanya Ayah

“Biar bisa beli rumah. Bantuin ayah nyari duit juga lagian kan kalo sama-sama kerja kan enak nyicilnya barengan tuh.”Alasan ini terindikasi dari mupengnya saya sama rumah yang di brosur tadi.

“Boleh tapi bunda sama Aliya tinggal di rumah mama. Rempoa. Kan Rempoa lebih deket tuh ke arah Jakarta.” Kata ayah.

Saya malah bengong denger usulan itu. Tinggal di Rempoa yang artinya harus misah dari suami. Apa enaknye rumah tangga begitu yaaa

“Ayah nanti pulang seminggu sekali ke Rempoa.” Kata ayah mengetahu apa yang sedang saya pikirkan.

Walaupun dengan opsi pulang seminggu sekali ke Rempoa tapi tetap aja gak enak menjalankan rumah tangga misah kayak gitu. Kalo seperti itu apa coba fungsi saya sebagai istri yang harusnya ada di dekat suami dan mengurusnya tapi ini malah tinggal misah demi keinginan bekerja. Saya belum siap mental untuk tinggal misah begitu. Iyalah dari awal pernikahan sudah tinggal sama-sama. Tiga hari setelah menginap di rumah mama setelah akad nikah saya langsuung diboyong ke Bekasi sama si ayah dan ketika hampir empat tahun hidup bersama tiba2 saya dan ayah harus misah. Nggak mau.

“kan bisa kerja di Bekasi.”kata saya

“Äliyasama siapa apalagi sebentar lagi Aliya sekolah.”

“Yaaa kita nyewa orang yang momong n ngasuh dia.””Jawab saya

“kalo gitu mending titipin Aliya ke Rempoa deh bun soalnya ayah nggak mu anak ayah diasuh sama pembantu. Ayah kecil gak pernah dipegang pembantu apapun kondisi ekonominya paling dipegang sama bude ayah itu juga karena Ibu masih tinggal di rumah Mbah. Nah bunda juga kan mama yang pega ng. Walau pun ada pembantu tapi mama stay di rumah kan?”jelas ayah.

Mendengar penjelasan ayah saya terpana. Makjleb. Gak mau diasuh sama pembantu. Aahh keputusan saya bekerja ternyata bukan keputusan yang gampang. Kemana idealis saya yang dulu berprinsip apapun kondisinya anak harus dipegang sama saya sebagai ibunya. Hiks hiks… hanya karena ingin memiliki rumah saya hampir menghapus idealis saya ntuh. Anak dipegang sama mama juga dengan resiko tinggal pisah dari ayahnya ahh saya nggak tega. Hiks

“Saya yakin kok apapun kondisi orang tuanya, Aliya tetap lebih senang tinggal sama ayahnya terbukti kan dia selalu menunggu ayahnya pulang kerja semalam apapun bahkan sampe ketiduran. Itu artinya dia nyaman sama kalian.”kata teman yang sudah saya anggap sebagai kakak sendiri ketika saya curhat tentang ini.

Saran teman itu juga membatalkan niat saya untuk bekerja terutama demi anak, alasan lainnya saya adalah seorang istri yang hendaknya mengurus suami.

“Masih ada warung, Bunda. Bunda bisa cari duit di situ walau gak seberapa tapi Aliya gak harus dipegang sama pengasuh. Biarlah urusan rumah kita pasrahin saja sama Allah. Walau sekarang masih ngontrak tapi seenggaknya kita gak numpang n bayarnya bener.”Begitulah kata ayah.

Januari 2015

Advertisements

2 thoughts on “Bekerja Atau Tidak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s