Sejak saya menikah tiga tahun lalu entah mengapa saya merasa teman atau sahabat yang dulunya dekat dengan saya perlahan menjauh, terutama yang masih single. Saya memahami perasaan mereka yang penting tidak memutuskan tali silaturahmi di antara kita, jadi buat saya gak masalah toh semua memang ada masanya dan tidak ada yang abadi. Ada hikmahnya juga beberapa teman yang tadinya gak begitu dekat tapi setelah saya menikah jadi dekat dan saling bertukar ilmu tentang rumah tangga.

Siang itu ketika Aliya tidur dan kerjaan rumah pun sudah beres, saya iseng online. Baca-baca status teman di BBM. Ada satu status yang buat saya tertarik dan kangen ngobrol2 n becanca lagi dengan teman dekat yang satu ini. Isinya sih simple, gak terlalu menarik tapi saya jadi penasaran pengen tahu kabar dia. Isinya:

“Si bontot udah kayak Bang Toyib kagak pulang-pulang”

Ya, dia menulis tentang adik bungsunya. Saya kenal. Dulu suka main-main ke rumah teman dekat saya yang satu ini malah terkadang nginap kalo lagi galau hehehe. Apalagi dia buka taman bacaan untuk anak-anak sekitar rumahnya yang termasuk anak-anak yang kurang mampu. Dari situ juga saya diam-diam belajar dekat dengan anak-anak sekaligus berempati dengan interaksi langsung terhadap anaak-anak yang kurang beruntung. (mereka ada yang pemulung dan anak jalanan, itu mereka lakuin karena terpaksa).

Dulu waktu saya nginap di rumah dia, saya pun juga suka ngobrol dengan adiknya ini. Profesi adiknya adalah polisi sementara teman saya adalah seorang perawat di sebuah rumah sakit. Saat itu mereka hanya tinggal berdua saja di rumah. Kedua orang tua mereka sudah meninggal sementara kakak-kakak mereka sudah berumah tangga dan tinggal di rumahnya masing-masing.

“Si bontot kemanong say? Eh dia bukannya udah merit yak”

Sapa saya di BBM’

“iya si bontot udah merit n udah beberapa hari blom pulang karena tugas Negara. Padahal bininnye mau melahirkan.”

Jawab dia. Wah ternyata sudah mau jadi bapak. Senang banget mengetahui kabarnya. Lalu teman dekat saya itu cerita kalo sekarang dia tinggal sendiri di rumah. Si bontot Alhamdulillah sudah punya rumah sendiri  terus sekarang kerjanya di bagian bareskrim narkoba jadi jarang pulang demi tugas Negara. Makanya kasihan juga istrinya mau melahirkan tapi suaminya belum pulang juga. Begitulah resiko punya suami polisi atau TNI. Suka jarang pulang demi tugas Negara.

Saya juga punya teman yang suaminya polisi pernah cerita bahkan saat waktunya liburan dengan anak suka di panggil tiba-tiba oleh atasannya jadi mau gak mau suaminya meninggalkan dia dan anaknya yang lagi liburan itu. Dan sering banget kejadiannya.

Bersyukur deh punya suami yang setiap hari selalu pulang ke rumah walaupun seringnya sampe tengah malam baru pulang hihihi. Di sinilah tugas istri memberikan dukungan, pengertian, serta kepercayaan untuk suami yang sedang mencari nafkah.

Setelah cerita tentang si bontot, dia pun cerita tentang dirinya. Tahun depan dia akan umroh dan setelah itu merit. Huaa seneng banget akhirnya waktu yang dinanti akan segera tiba. Dan ternyata calonnya itu masih satu RW sama dia. Hihi rupanya Insha Allah yang jadi jodohnya kelak ada di depan mata. Yaa itulah uniknya skenario Allah tentang jodoh.

Kami terus cerita dan becanda-becanda gitu di BBM kayak dulu. Iih sumpah kalo begini saya jadi kangen kumpul-kumpul lagi. Sampai tak terasa adzan ashar berkumandang dan kami pun menyudahi obrolan seru ini. Waktunya sholat dan kembali ke kesibukan masing-masing.

“Eh sebelum akikah merit, situ nginep lagi dong di rumah akikah. Aliya juga diajak kan banyak temannya tuh dia di sini.”

Heu nginep? Itu berarti saya harus menempuh perjalanan Bekasi-Kebon jeruk. Bayangin deh jauhnya kayak apa ditambah bawa anak balita yang super aktif. Rempong deh gue. Bisa di siasatin sih pake taksi cuma entah berapa ongkosnya. Tapi sebenarnya pengen banget hiks. Semoga ada rejeki n kesempatan buat ke sana deh.

“Ïya deh daku ijin dulu sama suami yaakk”

Ternyata saya masih bisa bersua n becanda sama teman lama saya yang dulu lumayan dekat. Dan dia telah mengajarkan banyak hal pada saya terutama rasa syukur.

Minggu sore saya sedang iseng buka-buka facebook baca-baca status teman. Saya terkesima dengan gambar dan kata-kata yang di share oleh seorang teman di beranda. Lucu juga gambarnya dan sepertinya ini murni hasil gambar seseorang yang di share teman saya itu. Benar saya ketika saya baca nama si pendesain gambar, saya merasa kenal dengannya. Dia memakai nama asli biasanya saya memanggilnya dengan nama idnya di sebuah situs komunitas penulis.

“Rey?”gumam saya dalam hati.

Pantesan itu gambar lucu banget wong yang desainnya seorang lulusan desain grafis. Keliatan banget kerapihannya. Hayah sotoy dah!

Saya jadi teringat beberapa waktu lalu ketika saya membereskan buku-buku dan tentu saja dibantu (dirusuhin lebih tepatnya) sama Aliya. Tiba-tiba Aliya bertanya sama saya tentang pas foto yang dia temukan di salah satus selipan bukunya.

“Bunda, ini siapa ya?” Tanya Aliya.

Saya terkesima menatapnya, ah Rey teman dekat yang dulu udah lama banget gak saling kontak lagi. Entah gimana kabarnya. Kemarin kapan pernah berkunjung lagi di FBnya tapi nggak pernah ada aktifitas lagi. Mungkin dia sekarang sedang sibuk menjadi suami dan ayah yang baik.

“Hoo dia namanya Om Rey.” Jawab saya.

“Om Rey itu siapa? Tanya Aliya lagi

“Sahabat bunda, nak. Teman dekat. Kayak Aliya sama Meila cuma Om Rey rumahnya jauh banget. Dekat sekolahnya Om Ijul dulu.”

Sengaja saya menjelaskan panjang kali lebar karena kalo dijelasin sesingkat-singkatnya akan ada pertanyaan-pertanyaan lagi yang menyerbu saya dari mulut Aliya. Dan berhasil, Aliya cuma manggut-manggut. Entah ngerti apa nggak, bodo amat hahaha.

Saya langsung berkunjung ke wall facebooknya. Dan ternyata saya sudah tidak berteman lagi dengannya. Kok bisa ya? Padahal saya gak pernah menghapus pertemanan dengannya. Aneh. Saya nggak mau su’uzon lebih lanjut karena saat itu niat saya cuma pengen jaga silaturahmi. Saya pun add lagi dan mengirim pesan di inboxnya.

“Rey masih ingat aku? Temenan lagi yuk.”

Nggak nyangka langsung dibalas. Dia meminta maaf karena yang delete kontak saya di facebooknya adalah mantan istrinya. Tunggu tunggu??? Mantan istri? Iya, si mantan ini menghapus hampir semua teman ceweknye di FB. Weww. Lupakan soal itu karena saya bisa memahami perasaan perempuan yang beruntung punya suami setampan Rey! (sebenarnya saya gengsi sih mengakui ini tapi fakta kudu diungkapkan #lebay). Iya tampan, secara doi pernah jadi kecengan cewek-cewek ketika dia masih aktif menulis. Termasuk saya hehehe. Hey, kalo kamu baca ini jangan GR ya.

Sekarang yang saya heran kenapa statusnya jadi mantan? Bukannya dulu lagi pacaran semua baik-baik saja bahkan sampai bisa menikah karena cukup lama juga mereka pacaran. Rey pasti lagi becanda, saya nggak percaya bahwa kini dia adalah duda. Gimana bisa? Secara kemarin dulu saya memperhatikan mereka baik-baik saja.

Ya bisalah, kehidupan pernikahan itu beda sama pacaran. Mau pacaran berapa lama kek bahkan sampe sepuluh tahun lebih, gak akan ngepek ketika sudah terjadi pernikahan. Ngerti? Nggak ada yang tahu isi hati orang kecuali Allah dan pemilik hati itu sendiri.

“Dia kembali ke agama sebelumnya dan aku talak. Tapi gak langsung ditalak sih, butuh waktu dua bulan untuk memutuskannya karena gak gampang buat kami.”

Pastilah, apapun penyebab menjatuhkan talak atau bercerai itu sangat tidak gampang untuk memutuskannya. Lebih gampang mutusin cewek daripada istri apalagi dia sudah meiliki dua anak. Lalu selanjutnya Rey curcol tentang semuanya. Saya iba. Gak kebayang deh kalo itu terjadi pada saya dan jangan sampai itu terjadi.

“Aku seneng bisa ngobrol sama kamu lagi n temen2 yang lain. Mungkin salah satu dari kejadian ini adalah bisa silaturahmi lagi sama teman2 yang dulu dekat.” Katanya.

Ah Rey seandainya dulu kamu sempat bicara kalau kalian berbeda keyakinan mungkin saya adalah salah satu orang yang akan bilang JANGAN, karena sangat tidak mudah untuk menyatukannya jika lingkungan pribadi kita adalah mayoritas keyakinan yang kita anut, mungkin akan beda jadinya jika lingkungan kita adalah lingkungan yang terbiasa dengan perbedaan keyakinan.

Apapun itu yang penting sekarang si Rey sedang move on dan menata hatinya kembali yang sedang retak. Semangat ya Rey, jika nanti sudah ketuk palu maka kamu resmi menyandang status duda keren alias duren, hihihi.

Persahabatan itu sangat indah dan buat saya yang mengalaminya persahabatan tidak ada yang abadi karena semua ada masanya. Lagi-lagi suatu saat ketika kita lelah pasti kembali pulang kepada keluarga.

NB: Untuk Nining selamat ya atas kelahiran ponakan barunya semoga menjadi anak yang sholehah dan membanggakan bagi kedua orang tuanya serta orang yang menyayanginya

Bekasi, 21 Desember

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s