Tentang Hari Ibu Untuk Mama dan Saya

Wow...(4)Apa yang membuat saya sedih ketika menyadari hari ini adalah hari ibu? Bahwa saya belum bertemu dengan mama tapi saya senang ketika saya mengetik tulisan ini, mama sedang liburan bersama papa ke Semarang. Happy fun ya mam. Sudah seharusnya mereka menikmati hari tua tanpa dibebani dengan urusan cucu.

Kali ini saya nggak akan menye-menye menulis tentang tema ibu seperti tahun-tahun sebelumnya. Entahlah kalau lama kelamaan tulisan ini jadi tulisan mellow, itu berarti saya sebagai penulis blog ini adalah orang yang plin plan (pengennya sih nggak begitu).

Ini adalah yang ketiga kalinya saya menulis tentang ibu. Tahun kemarin saya tidak sempat menulis tentang hari ibu. Rencananya tahun ini mau menulis tentang Papa di hari ulang tahunnya kemarin tapi lagi-lagi tidak sempat, karena saya adalah seorang ibu rumah tangga yang super (sok) sibuk, salah satunya sibuk pesbukan. Salahkan saja saya.

Mama adalah seorang yang berhasil mendidik saya sebagai pribadi yang mandiri. Salah satunya adalah mempersiapkan mental kemandirian saya ketika saya masuk ke dalam rumah tangga. Kemandirian dalam rumah tangga. Begitulah saya menamakannya. Kemandirian secara mental maupun materi. Mungkin mama sadar ketika berumah tangga saya langsung tinggal jauh dari mereka dan harus hidup dari nol. Iya nol, karena suami saya dulu kere.

Jujur sebelum menikah saya ini jarang banget pegang kerjaan rumah tangga dan hampir tidak pernah mencuci baju apalagi masak. Kalo pun pernah ke dapur juga cuma bikin kue yang tentu saja dipandu mama plus dibantu si aisisten mama. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kagetnya saya menghadapin kehidupan rumah tangga karena saya belum bisa apa-apa dan si ayah pun belum bisa pasang kompor gas.

Itulah rumah tangga yang sebenarnya dan kamu harus menghadapinya sendiri. Suamimu adalah pilihanmu sendiri maka nikmatilah apa yang menjadi pilihanmu. Begitulah kata mama. Makan tuh cinta! Kasarannya begitu kali ya hihihi. Dan sejak itu saya bertekad untuk menikmati rumah tangga pilihan saya ini, kebetulan juga ayah pun memegang prinsip kemandirian. Eh iya dia mah sudah mandiri dari kapan tahu yaa wong ketika menikah dengan saya sudah sepuluh tahunan merantau.

Kedengarannya kejam sih. Saat yang lainnya setelah menikah masih bisa tinggal satu rumah dengan orang tuanya dan orang tuanya masih membantu sementara saya harus menghadapi semuanya hanya berdua suami dengan kondisi jauh dari orang tua serta saudara lainnya. Kasian deh gue.

Setelah berhasil menjadi seorang istri yang serba bisa, mama mendiidk saya menjadi ibu yang mandiri tanpa bantuan siapapun kecuali suami. Iya, awalnya saya bahagia menjadi ibu tapi ketika dijalaninya terasa berat banget. Kerjaan rumah numpuk, baby nggak bisa ditinggal bahkan mau makan pun susah banget sampai ditolong sama tetgangga sebelah, Kalo ngebayangin hari-hari pertama jadi ibu rasanya pengen nangis sendiri.

Jujur dengan kondisi seperti itu saya kurang menikmati masa-masa Aliya baby dan sekarang saya menyesal. Baru bisa menikmati punya anak itu ketika Aliya berusia satu tahun ke atas seiring meningkatnya perekonomian rumah tangga kami.

Setelah itu saya tetaplah saya, seorang anak perempuanĀ  satu-satunya yang manja dan nggak bisa kelamaan nggak ketemu sama mama dan papa. Seperti kondisi sekarang ini, karena suatu hal saya nggak bisa merayakan tahun baru di rumah mama. Tahun kemarin juga nggak ke sana sih. SI ayah bilang tetap berdoa dan optimis semoga ada rejeki tak terduga di tahun baru, Iya udah ada sinyalnya sih, yaitu hari ini puisi ayah diterima di Banjarmasin Post. Sayangnya tuh honor baru turun sebulan kemudian. Hiks tahun barunya kapan honornya kapan.

Apapun kondisinya yang jelas saya bisa menjadi istri dan ibu yang mandiri berkat bimbingan mama. Saya berharap semoga saja saya tetap bisa membahagiakan mama dan menjadi anak yang membanggakan buat mama.

Happy Mother Days Mom (sok inggris deh gue). Semoga mama selalu sehat, bahagia, diberikan nikmat rejeki dan iman. Amin. Maka jika surga memang benar-benar ada di telapak kaki ibu, semoga saja mama telah menjadi calon penghuninya, begitu juga dengan saya yang kini telah menjadi seorang ibu. Terima kasih mama. I love you. I Miss you

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s