Penerimaan Atas Diri Sendiri

Tadi sore papa menunjukan artikel tes CPNS untuk disabilitas. Cocok untuk aku, kata papa. Aku mengerutkan kening karena kata disabilitas dan teringat, aku gak pernah punya cita-cita jadi PNS. Cita-citaku itu dari jaman SMP adalah jadi wanita karir, jadi junarlis dan tinggal di Apartemen sendiri di kota Jakarta hahaha… keren kan? Tapi ya.. Allah punya skenario lain. Sekarang aku hanyalah ibu rumah tangga dengan anak perempuan usia menjelang 6 tahun dan bayi laki-laki yang banyak gaya, bawel, dan super usil terus aku juga akan pindah dari rumah kontrakan ke rumah ala KPR bersubsidi. Jadi buanglah impian punya apartemen pada tempatnya. Karena ternyata punya apartemen juga belum tentu punya tanah wek :p Lagipula papa mama tidak pernah mengijinkan aku menjadi junarlis hahaha…

“Lah kamu kan pake Hearing Aid, non. Disabillitas juga kan?” papa mengingatkanku.

Aku nyengir tanpa merasa gimana gitu. Ah sejak kapan aku bisa menerima diriku sendiri? Mungkin sejak menikah atau mungkin sejak mengenalmu. Dulu, awal jadian dan sebelumnya kamu pernah baca tentang Hearing Aid yang aku tulis di blog, kamu langsung menginformasikan teman-temanmu yang bernasib sama denganku, harus menggunakan Hearing Aid. Dari situlah aku merasa bahwa aku gak sendiri, bahwa ada yang lebih kurang dari aku. Mungkin sejak itu aku baru bisa menerima diriku sendiri. Iya, sejak usiaku 23 tahun, aku baru bisa menerima diriku sendiri tanpa terpaksa. Kok bisa? Yaa bisalah. Pokoknya sedih kalo diceritain hiks.. Beneran tau, aku bakalan nangis kalo cerita gimana perjuangan aku hidup dengan dibully secara langsung dan tidak langsung dengan kata-kata budeg! Gimana sakit hatinya aku ketika mama menceritakan kekurangan aku kepada orang lain tanpa rasa bersalah dan bikin aku minder. Aku dipaksa mengerti bahwa yang mama lakukan adalah agar orang lain bisa memahami posisi aku sebagai pemakai Hearing Aid.

“Mam, kata mereka aku ini orang cacat?” Aduku waktu masih SD.

Mama menjawab bahwa aku ini bukan orang cacat dan bla bla bla… kata2 yang menghiburku tapi sebenarnya tidak menghibur sama sekali.

Begitulah salah satu proses perjuanganku menerima diriku sendiri. Kenapa? Karena sebelumnya aku gak pernah dikenalkan dengan orang yang bernasib sama denganku. Dan hebatnya, mereka kini adalah orang-orang hebat loh. Ada yang jadi fotografer, dulu aku sempat diajak hunting bareng tapi gak jadi karena keburu aku sibuk dengan persiapan pernikahanku 😀 sampai yang jadi dokter pun ada. Iyaa.. keren kan? Mereka memiliki ibu yang hebat. Sama kayak aku, aku juga memiliki mama yang hebat meski pada akhirnya kamulah yang sangat berperan penting untuk aku menerima diriku sendiri. #HapusAirMata #TisuManaTisu

Ingat kata kamu bahwa sebenarnya orang yang kekurangan itu hanya butuh dimengerti oleh orang-orang terdekat dan lingkungan kalau pun harus mengetahui tentangg kondisi kita, itu karena kita yang kasih tahu, bukan orang lain. Terbukti, kamu gak pernah memberitahu ke orang lain tapi aku sendiri yang bilang ke lingkungan terdekat, seperti contohnya tetangga. Alhamdulillah lingkungan bisa mengerti. Atau kasih tahu tentang kondisi kita sebenarnya, jangan di depan kita. Cuma kalo sekarang yaa udah gak ngepek sih yaaa.. karena aku pribadi istilahnya sudah menerima diri sendiri atau sudah selesai dengan diri sendiri.

Dan dua tahun lalu ada teman yang tiba2 PM aku nanya, apakah kamu juga disabillitas? Lah aku bengong. Apa hanya kekurangan pendengaran sudah bisa dikategorikan disabillitas? Bagaimana dengan yang pake kaca mata. Kan gak ada bedanya. Cuma ketika teman itu menjelaskan apa itu disabillitas, mungkin aku termasuk kali yaa.. aahh apapun namanya toh aku sekarang telah menjalani kehidupan normal dan memiliki kasih sayang utuh. Alhamdulillah.

Terus aku cek2 lagi tuh informasi CPNSnya, barang kali bisa beneran ikutan dan beruntung kan lumayan. Laah ternyata itu 2014 iihh si Papa ini hahaha… ya sudahlah. Yuk anak-anak kita nyanyi Tek Dung La..la…la… lagi! #LaguFavoritKingpaw
#KumpulanCeritaCurcol

Advertisements

Welcome My Baby Sholgan

Setelah sama-sama menghabiskan sisa-sisa menu lebaran di meja makan dan membereskannya, saya menatap tumpukan piring kotor dengan resah. Lalu pandangan saya beralih ke perut yang semakin membesar tapi entah kapan makhluk mungil yang di dalamnya keluar meramaikan rumah kami. Terhitung sudah tiga hari lewat dari HPL dan teringat liburan lebaran si ayah beberapa hari lagi selesai. Bakal repot kalo lahiran sementara ayah sudah masuk kerja. Lagi pula saya kangen sama mama papa di Rempoa. Apalagi lebaran di komplek sepi banget kayak kuburan.

Lalu saya mengelus perut sambil bilang: Sholgan sayang ayo dong keluar. Ditungguin sama ayah, bunda, n kakak terus jid sama jidah juga nungguin. Mumpung ayah libur. Saat ini saat yang paling tepat nak untuk kamu keluar. Bunda yakin, kita bisa kerja sama dengan baik, nak.

Setelah itu seperti malam-malam sebelumnya. Saya main-main sama si Kakak dan ngobrol ngara ngidul sama ayah. Tapi entah kenapa malam itu saya tidur lebih awal dari biasanya. Gak seperti biasanya ikutan mereka bergadang. Rasanya lelah banget. Padahal seharian lebaran ini saya santai, nggak kerja apa-apa. Cuma rasanya perut kenceng n si Sholgan nyundul terus. Berasa makin susah jalan.

Tepat jam setengah dua belas saya terbangun. Berasa ada cairan yang keluar. Agak panik karena takut ketuban pecah atau apa gitu. Ternyata ngeflek. Perlahan-lahan saya merasakan kontraksi. Rasanya kayak sakit perut lagi haid tapi lebih sakit n pinggul panas banget, cuma belum begitu sakit. Masih bisa ditahan.

“Ayah, aku ngeflek.” Kata saya keluar dari kamar mandi.

“Uhmm..” si ayah masih asik online di hp sementara Aliya rupanya sudah tidur.

Beberaapa menit kemudian. “Ayah, aku kontraksi nih!” sambil meringis megangin pinggul.

“APA!!!” si ayah langsung panik. “Bidan Yumi pulang kampung, Bun. Apa beneran udah waktunya?”

“Sepertinya iya. Sholgan nurut sama bunda. Tadi bunda suruh dia lahir besok.” Saya masih meringis kesakitan menahan kontraksi yang masih 10 menit sekali.

“Terus gimana?”

“Gimana apanya?”

“Bidan Yumi pulang kampung, Bun.”

“Yaa cari bidan lain. Terakhir kontrol bidan yumi bilang sama bunda kalo misalkan kontraksi ketika dia lagi pulkam, bunda disuruh cari bidan lain. Semua data kontrol bunda udah dilengkapin di KMS sama bidan yumi. Kebetulan kan emang kita gak pernah pindah2 lagi selain buat USG.”

Akhirnya di tengah kotraksi yang masih sepuluh menit sekali itu, kita bukannya langsung ke bidan mana gitu tapi malah diskusi penentuan bidan yang lain. Saya masih tenang soalnya jeda kontraksinya terhitung masih lama meskipun kalo kontraksi datang makin lama makin sakit. Tapi masih bisa ditahan. Apalagi saya sudah mempelajari cara mengendalikan rasa sakit ketika kontraksi.

“Gimana kalo di klinik bersalin yang waktu itu bunda USG.” usul saya. Walau sebenarnya kurang sreg tapi cuma itu yang terlintas di benak saya.

“Ayah nggak sreg bun sama bidannya. Waktu USG sama dokter kandungan aja yaa blom-blom udah bilang rujukan Caesar. Hayah… feeling ayah bidan itu nggak terlalu pro normal n ragu-ragu nanganin bunda buat lahir normal. Padahal bidan yumi udah kasih tau kalo bunda bisa lahir normal dengan bekal-bekal yang udah dia kasih tau ke bunda plus pengalaman pertama bunda.”

Hening cukup lama. Berdua sambil mikir kira-kira kita tengah malam begini harus ke bidan mana. Kalo bisa yang 24 jam.

“Ahaaa Bidan Berlian!” Usul ayah. “Klinik bersalin yang di depan taman alamanda itu.”

“Iya tau tempatnya. Eh tapi dia kan non muslim tau. Ada sih beberapa tetangga di blok h dulu yang melahirkan di situ waktu angkatannya Aliya. Tapi masa non muslim sih.” Kata saya lalu kontraksi tetiba datang dan hooossshh tarik napas lalu buang perlahan. Ajib deh mantap bener sakitnya.

“Kita butuh pertolongannya bukan butuh agamanya, Bun. Insya Allah-lah dia bisa menolong lagian posisi kliniknya juga lebih dekat dengan rumah kita. Ayah nggak peduli agamanya apa, asal dia bisa menolong. Feeling ayah yaa Bidan Berlian. Justru saat-saat lebaran begini, kita justru butuh pertolongan non muslim kalo kepepet begini. Lah bidan muslimnya juga pada pulang kampung.” Usul ayah keukeuh. Dia mah gitu kalo udah bikin keputusan nggak bisa diubah apapun alasannya,

“Dia buka 24 jam?”

“Kita coba aja sekarang yuk jalan.”

Akhirnya saya bangunin Aliya dan kita bertiga langsung ke klinik bidan berlian. Sengaja nggak bawa travel bag dulu takutnya baru pembukaan satu n disuruh pulang lagi. Di sana Alhamdulillah ternyata beneran buka 24 jam. Saya langsung di cek pembukaan, baru pembukaan satu n disuruh pulang lagi. Bidan Berlian bilang kalo besok balik lagi udah pembukaan tiga, saya udah nggak boleh pulang. Akhirnya kita bertiga pulang. Si ayah dan Aliya langsung molor. Saya? Pengen sih tidur tapi boro2 bisa tidur. Orang kalo kontraksinya datang lumayan sakit banget hiks hiks. Untung masih bisa ditahan. Asal jangan kotraksi induksi beuuh baru saya semaput. Itu dari pengalaman pertama.

Terus saya online. Sempat nyimak sahabat curhat di BBM n jalan2 di pesbuk. Bosen. Beres-beres. Lengkapin packing terus cuci piring. Jam 5 kontraksi sudah mulai 5 menit sekali, kadang lima menit bisa dua kali. Sampai setengah tujuh saya bangunin ayah, udah sering banget kontraksinya. Ayah bilang saya harus telepon bidan yumi untuk bilang kondisi saya tapi sayangnya hp bidan yumi nggak aktif sementara saya merasa makin sakit. Akhirnya saya langsung dibawa ke klinik bersalin lagi. Bidan Berlian rupanya sudah siap dan saya di cek pembukaan, udah bukaan tiga, langsung ditahan. Padahal saya pengen jalan-jalan sekitar klinik biar rileks tapi bidan tidak mengijinkan, saya harus menikmati kontaksi di kamar bersalin hiks hiks…

“Aliya gimana?” saya bingung sama Aliya sebenarnya dari awal.

“Sama ayah.”

“Yaudah ayah jagain aliya yaa bunda sama perawat n bidan aja.”

Tapi ternyata ini klinik berasa rumah banget. Aliya boleh bolak-balik ke kamar bersalin menengok saya. Dan ternyata di klinik ini banyak anak kecil seumuran Aliya, anak-anaknya bu bidan, jadi Aliya juga merasa senang karena banyak temannya. Alhamdulillah Allah memudahkan pekara Aliya. Saya tenang jadinya.

Ternyata dari pembukaan tiga ke enam lumayan cepat. Bahkan prediksi bidan jam 10 nanti saya sudah lahiran. Nah makin semangat dong saya menahan sakitnya. Ngajak ngobrol Sholgan juga. Nanti mohon kerja samanya ya nak, kita pasti bisa. Kata saya. Asisten bidan merangkap perawat juga pun dengan lembut menyemangati saya (dia sebenarnya bidan juga tapi junior, iya keliatannya juga lebih muda dari saya. Malah awalnya saya kira dia perawat ajah.).

Sudah lewat jam satu ternyata pembukaan enam ke tujuh nggak nambah-nambah. Saya sudah wanti-wanti sama bu bidan ogah di induksi pengen kontraksi alami ajah. Tapi bu bidan terus bujuk saya karena blom ada bukaan lagi, Kasian adeknya di perut. Semua bidan di situ bujukin saya.

“Tapi bu di induksi itu sakit. Saya pengalaman pertama dari pembukaan tiga udah di induksi.” Kata saya mohon-mohon.

“Waktu pertama mungkin langsung dikasih perangsang dosis lebih tinggi jadi sakit banget. Sekarang saya nggak kasih perangsang apa-apa Cuma induksi air doang. Biar lembut rahimnya n ngebuka jalan lahir lagi bu.” Bidan Berlian terus bujukin saya dengan lembut n sabar. (Kalo Bidan Yumi mah udah main induksi aja kali tanpa ijin saya heuheuheu… dia kan agak galak kalo saya lahiran).

Akhirnya dengan iming2 rasa sakitnya nggak sesakit yang saya bayangkan, saya pun akhirnya setuju di induksi. Tapi ya Allah walopun emang nggak sesakit induksi melahirkan pertama yaaa… Tetap aja sakit dan saya kadang bisa bertahan, kadang nggak tahan. Gitu aja terus sampe akhirnya berkembang ke pembukaan tujuh. Ternyata pembukaan tujuh itu mentok lagi sodara-sodara dan ketuban saya akhirnya pecah. Bikin kaget aja sumpah baru kali ini ngalamin ketuban pecah hiks. Setelah ketuban pecah, sakitnya kontraksi udah nggak bisa ditahan lagi. Sakit pake banget. Sampe saya benci sama ayah yang terus-terusan ingetin saya untuk tidak teriak n sekuat tenaga ditahan sakitnya. Hey, situ cowok mah nggak pernah ngerasain sih sakitnya. Jadi makin sebel, Ujung2nya saya nahan sakit sambil berantem sama ayah. Padahal di situ masih ada asisten bidan heuheu.. Sumpah saya sebel banget sama ayah, pengen tak lempar pake benda apa gitu yang ada di sekitar saya. Cuma yaa saya nggak punya daya upaya buat itu. Sudah lemes banget rasanya. Cuma bisa berdoa semoga bisa bertahan sampe bukaan 10 dan masih ada sisa energi buat ngeden. Akhirnya yaa saya usir aja si ayah. Saya bilang saya cuma pengen sama asisten bidan aja, nggak mau ditemenin sama ayah hahaha…. Saking enegnya liat muka dia :p

Padahal mah waktu lahiran anak pertama, dia sempet jadi korban kekerasan saya. Ditabokin n dikremes sampe sobek bajunya. Nah kalo sekarang daripada jadi korban kekerasan saya lagi (soalnya ada napsu pengen banget gigit dia hahaha) mending tak usir suruh keluar. Nggak lama kemudian beberapa bidan masuk, ngecek pembukaan ternyata belum maju-maju. Mereka terdengar mendiskusikan sesuatu. Akhirnya mereka memaksa saya untuk miring ke kiri. Saya pun mau nggak mau menurut. Wong dikeroyok tiga bidan bok! Sakitnya? Nggak usah dibayangin deh, lebih sakit dari apapun sampe rasanya pengen mati aja kalo nggak inget ada anak di dalam perut yang juga lagi berjuang untuk keluar. Per satu menit atau dua menit di cek pembukaannya, ternyata cepet berkembang sampe pembukaan sepuluh. Hosshh akhirnyaa…

Ternyata perjuangan belum usai sodara-sodara. Iya, waktunya saya ngeden sekuat-kuatnya padahal aseli nih badan udah lemes banget n dikuat-kuatin. Si ayah masuk lagi, rasa benci sama dia sudah berkurang. Soalnya ayah mendadak jadi romantis banget. Nggak tahu deh dia salah minum obat apaan. Yang jelas posisi ayah sambil mengusap kepala saya, sesekali mengelap keringat yang nongol di kening saya sambil ngucapin kata semangat dengan lembut. Itu salah satu hal romantis yang pernah ayah lakukan ke saya loh. Yaa.. itu yang bikin saya semakin semangat dan penambah energi buat saya walaupun kata bidan setiap saya ngeden sepertinya nggak ada tenaga. Nggak ada hal yang harus dilakukan lagi selain terpaksa salah satu bidan mendorong perut saya untuk ngeden. 1…2….3…. oooowwweeekkkkk!!!! Maka terdengarlah tangis baby sholgan. Detik itu juga saya menangis terharu mendengar suara tangisnya. Perjuangan saya nggak sia-sia dan akhirnya…..

KingFawwaz3                .KingFawwaz1

KingFawwaz4   KingFawwaz2

Teringat dulu si kakak waktu keluar nggak langsung nangis karena sudah kelamaan di jalan lahir dan keracunan air ketuban. Rasanya nggak bisa ditulis deh sekarang bisa langsung denger suara nangisnya baby Sholgan. Tapi saya kecewa dan sempet protes si baby Sholgan bukannya langsung IMD malah dibawa dan ditaruh di inkubuator. Konon kata bidan kondisi saya sudah parah dan bisa beresiko pendarahan plus baby Sholgan juga takutnya kenapa-napa dengan kondisi tali pusat yang pendek. Itulah yang menyebabkan pembukaan enam mentok nggak berkembang kalo nggak di induksi.

Meski kecewa, diam-diam saya menghibur diri. Asal baby Sholgan sehat, asal saya cepet pulih. Ya sudahlah… hiks hiks….

Besok paginya setelah diskusi panjang lebar, saya dan ayah sepakat memberi nama Fawwaz Akbar Maulana. Fawwaz berarti kemenangan karena lahir di hari kedua lebaran (sebenarnya nama ini sudah terekam di otak sejak hamil anak pertama. Akbar artinya besar. Maulana atas permintaan ibu mertua di telepon yang artinya Pemimpin. Jadi keseluruhan berarti Pemimpin kemenangan besar. Gagahkan?

Pokoknya tahun ini adalah lebaran paling berkesan selama hidup saya. Bersyukur dikasih hadiah lebaran terindah dari Allah.

Rempoa, Juli 2016

Harapan Penuh Harap

Hari ini masih long weekend. Ayah masih libur, kalo sebenarnya saya sehat seharusnya saya sore pergi keliling atau main ke rumah teman saya di blok sebelah sonoan dikit dari blok rumah saya. Atau siangnya saya bisa ngaji, menghadiri undangan aqiqah tetangga. Tapi apalah daya, setelah saya kelar masak tadi siang, pinggul saya malah sakit banget. Saking sakitnya, susah banget buat berdiri. Saya cuma bisa terduduk, kalau pun berdiri atau jalan saya paksakan. Biar gak terlalu kaku.

Sebelumnya memang pernah seperti ini, karena keluhan yang paling sering mampir di kehamilan kali ini adalah sakit pinggul dan belakangan bertambah jadi sakit gigi huhuhuuu.. Tapi yaa sebelumnya gak peernah separah ini. Masih bisalah beraktifitas seperti biasa. Namun kali ini huaaa sakitnya lumayanlah kayak patah tulang deh pokoknya. Bergerak sedikit aja kudu diatur, kalo salah begerak bakal sakitnya pake banget dan ujung-ujungnya nangis hiks. Untuk ayah lagi libur yaa..

Memasuki bulan ke enam dan sekarang yang ke tujuh itu sejujurnya saya stress luar biasa. Semua berawal dari bulan ke enam kemarin, bidan bilang kalo posisi Sholgan sungsang. Kepalanya di kanan. Saya harus rajin yoga dan sujud plus jalan kaki. Jujur karena suatu masalah kesehatan orang tua dan hal lainnya saya jarang melakukan saran bidan, saya masih yakin itu Sholgan pasti sudah di posisi normal saat tujuh bulan nanti.

Namun beberapa malam yang lalu saat saya kontrol bulan ke tujuh, ternyata posisinya belum berubah. Huaa saya panik n stress luar biasa. Dan sejak itu hingga hari ini saya mulai rutin yoga dan sujud malah saya mulai ngepel pake tangan. Semangat pokoknya. Terus saya dan ayah lagi berusaha mencari second opinion dengan USG di klinik bersalin terdekat. Kemarin udah daftar USG untuk hari Minggu sore nanti nih. Berarti pulang Kakak Aliya berenang (perpisahan sekolah), kita bertiga langsung ke klinik. Dari tadi malam sampai tadi siang diskusi sama si ayah untuk ancang-ancang lahiran di klinik itu juga. Karena fasilitasnya yang lumayan dan sepertinya biaya terjangkau juga. Apalagi setelah tanya sama teman yang pernah bersalin di sana, rekomendasi banget. Bidan dan dokter di sana sabar. Nah makanya nanti USG sekalian nanya-nanya info selanjutnya kalo lahiran di sana. Kemungkinan besar juga saya akan pindah kontrol dari bidan biasa ke klinik bersalin itu. Semoga cocok dan dimudahkan semuanya. AMIN YRA

Balik lagi yaa kejadian hari ini benar-benar bikin saya drop karena pinggul ini. Padahal udah dipakein koyo sebanyak mungkin tapi tetap nggak mempan. Pokoknya rasanya menderita banget. Udah kemarin sakit gigi eh sekarang pinggul yang nggak bisa diajak kompromi. Hiks hiks saya jadi kapok kalo mau hamil lagi. Eh lagian nggak ada niat hamil lagi kok, setelah ini mau ditutup produksinya mengingat usia si ayah heuheu. Dari awal kita emang sepakat kok, anak cukup dua saja. Dan kita juga nggak mempermasalahkan jenis kelamin. Kalo kali ini cewek lagi yaa Alhamdulillah, sayanya memang lebih suka anak cewek kok. Dan kakak Aliya juga pengen adiknya cewek. Kalo cowok yaa rejeki kita punya anak sepasang. Apa aja yang penting lahirnya normal n saya dan Sholgan sehat.

Sekarang dan untuk selanjutnya saya janji saya akan berusaha lebih keras lagi dari kemarin-kemarin. Ya Allah mudahkanlah semuanya untuk proses persalinan normal. Amin YRA. Semoga hasil USG nanti adalah hasil yang diinginkan.

Review Buku Anak: Aku Bisa Merapikan Mainan

12803047_10207818070823633_6951115655791451711_n

Judul Buku: Seri balita pintar Ari dan Pusi: Aku Bisa Merapikan Mainan

Penulis: Yeni S Firdaus

Ilustrator: Cariwan

Penerbit: Bintang Indonesia, Jakarta

Buku ini adalah salah satu buku anak seri balita pintar Pusi dan Ari. Di berbagai edisi telah diceritakan bagaimana keseharian Ari, sementara Pusi adalah bintang peliharaannya. Tak hanya Ari dan Pusi saja yang menjadi tokoh di buku ini, ada ayah, ibu dan Shifa sebagai adiknya Ari.

Sesuai dengan judulnya maka edisi kali ini menceritakan tentang Ari yang tidak mau membereskan mainannya di kamar setelah dia bermain. Padahal ibu sudah menyuruhnya tetapi Ari tidak menurut, malah asyik nonton televisi. Namun tiba-tiba saja Shifa menjerit kesakitan dari dalam kamar Ari, ternyata Shifa tidak sengaja menginjak mainan Ari sampai rusak. Ari marah tapi sang ibu melerainya dan mengingatkan Ari bahwa lain kali setelah bermain, Ari harus merapikan mainannya.

Saya tertarik saat melihat judul buku ini. Cocok untuk anak perempuan saya yang masih balita karena bisa membantu saya mencontohkan sang anak dari isi buku cerita ini. Apalagi gambarnya full color, jadi sang anak semakin tertarik untuk melihat-lihat isi di dalam buku sampai selesai. Walaupun sang anak belum bisa membaca tetapi setidaknya bunda bisa menceritakan apa yang ada dalam buku ini dengan bahasa yang sederhana atau bahasa yang mudah dimengerti anak.

Ilustrasi buku ini cukup bagus. Gambarnya mengambil porsi besar di setiap halaman. Harga buku ini termasuk murah sehingga bersahabat dengan kantong bunda.

Untuk pemesanan bisa menghubungi saya. Hanya dengan harga 40.000 rupiah maka bunda akan mendapatkan lima buah buku seri balita pintar Pusi dan Ari dengan judul yang berbeda-beda. Murah bukan. Yuk, jadikan anak kita menyukai buku karena dengan bukulah kita bisa melihat berbagai dunia.

Curlolan Si Bumil

Hai…hai… baru nulis n buka blog lagi nih setelah sekian lamanya, hampir tiga bulan kayaknya saya nggak nulis dimari. Asik pesbukan terus hihihi.. karena selama itulah saya selalu lupa beli pulsa modem, akibat mood saya yang kayak rollercoaster #lebay dan kesehatan saya yang naik turun seiring dengan membesarnya usia kandungan saya.

Namanya blog bagi saya pasti deh kebanyakan buat curcol dari pada buat review nana nini nunu. Dari dulu yaa begitulah saya. Padahal yang baca juga siapa lagi yaa.. heuheu… Baiklah, kali ini saya juga mau curcol lagi tentang kehamilan kedua saya beserta keluhan-keluhannya.

Si perut

Tekanan saat kehamilan kali ini sudah terjadi sejak usia kandungan memasuki tiga bulan ke atas. Banyak tekanan dari mana-mana. Dari orang tua, dari rumah tangga sendiri, dan dari kesehatan yang benar-benar sempat down. Bahkan saya sendiri sempat mengalami kontraksi setiap bulannya akibat berbagai tekanan. Malah kontraksi yang terakhir saat memasuki usia kandungan empat bulan, saya hampir keguguran. Beruntung Allah masih percaya sama saya atas si baby Sholgan, calon amanah kedua ini. Lega banget rasanya bisa melalui masa-masa krisis. Dukungan suami dan anak plus pantauan bidan benar-benar hal yang terpenting bagi saya. Intinya karena dukungan mereka, saya merasa tidak sendiri dan masih ada yang peduli dengan saya serta menginginkan saya sehat.

Salah saya juga sih, sudah tau lagi hamil tapi malah suka lupa plus nekat angkat yang berat-berat. Maka terjadilah kontraksi yang hebat itu, sampai bangun aja nggak bisa. Itu sudah terjadi hampir dua hari. Tadinya saya kira itu kram perut biasa tapi lama kelamaan kok yaa makin sakit banget. Akhirnya ayah membawa saya ke bidan. Dan benar saja, itu kontraksi buk! Kenapa nggak langsung ke sini saat awal kejadian. Yee mana saya tahu kalau itu sebenarnya kontraksi. Memang sih sempat baca-baca artikel dari om gugel yang intinya semua menandakan kalau harus segera dibawa ke petugas medis. Tapi saya cuek karena sok kuat dan beranggapan pasti bakal sembuh dengan sendirinya lagi pula kerjaan rumah tangga masih seabrek ditambah saya harus ngurus si Kakak Aliya.

Saat itu juga bidan langsung menyuruh saya bedres. Kata-kata bedres itu loh yang bikin saya bête karena pasti nggak bisa ngapa-ngapain. Konon katanya kali ini saya sudah hampir keguguran dan harus dikasih penguat jadi mau nggak mau saya turutin. Siapa juga yang pengen keguguran. Sudah kehilangan calon baby plus pasti nanti dikuret hiiii saya mending ngalamin sakit saat brojol beneran deh. Kalo brojol kan pasti dapat baby, kalo keguguran? Huaa dapatnya kehilangan dan mewek berhari-hari akan jadi keseharian saya kelak. Nggak mau!!! Akhirnya saya turuti semua apa kata bidan. Bahkan pantangan makanan n minuman juga saya turutin. Pokoknya karena kondisi kehamilan kedua ini lebih lemah dari kehamilan pertama, jadi saya ogah bandel lagi kayak dulu. Semuanya saya turuti biar baby Sholgan sehat sampai waktunya lahir nanti.

Badai kontraksi telah berlalu. Baby Sholgan dan si emak selamat berkat pertolongan Allah. Seiring dengan usia kandungan saya yang makin besar, jalan lima bulan eh saya malah sering kram di kaki. Sakitnya hadeh jangan ditanya deh. Udah mah pinggul saya sering sakit ditambah kaki sering kram, itu rasanya asoy sekali. Apalagi setelah kram berlalu seluruh badan malah pegel-pegel. Berasa abis olah raga kelamaan tapi nggak pemanasan dulu hiks. Jadi deh saya lebih banyak ngedon di kamar dengan kondisi rumah udah kayak apaan tau. Bahkan ngepel juga cuma sempet saya lakuin seminggu sekali hiks. Untung sekolah Aliya dekat, satu dinding sama dapur saya, alias nemplok di belakang rumah. Jadi jemput Aliya juga bukan masalah lagi.

Setelah kejadian demi kejadian ditambah tubuh yang semakin lemah terutama pinggul yang suka nggak mau diajak kompromi, saya akhirnya bisa membatasi aktifitas dengan sendirinya. Mau ini itu kalo udah capek yaudah tidur aja atau ngemil kuaci hehehe… Memperingati diri sendiri karena imbasnya bukan cuma ke saya aja tapi ke baby Sholgan juga. Saya juga meminimalisir tekanan dari luar, jadi lebih banyak cuek bebek deh, yang penting saya sama ayah rukun dan kesehatan juga selamat.

Oiya ngomong-ngomong tekanan yaa.. ada tuh ya seseorang yang bawaannya gimana gitu sama saya. Nggak tau ini perasaan saya yang lagi sensitif aja apa yaa. Saat lagi masa pemulihan, ada orang yang bilang gini sama saya: “Padahal kamu mah nggak capek-capek banget yaa..” Rasanya sewot banget deh dengan kata-kata yang mungkin biasa saja tapi kalau diucapkan pada saat lagi semaput gitu yaa bikin saya pengen nimpukin ulekan ke orang tersebut. Padahal mah sesama ibu rumah tangga loh. Sama-sama pernah hamil. Lagian yaa mbok jangan samain kondisi saya sama dia dong. Saya ini kan tadinya (sebelum menikah) Tuan Putri yang sama sekali nggak pegang kerjaan rumah. Cuma duduk manis dilayanin orang tua n asisten mama. Nggak pernah merantau, kerja di orang aja juga nggak pernah plus kondisi fisik saya yang gampang sakit. Jadi ketika menikah yaa.. harus jadi supermom dan itu nggak gampang tauk buat saya. Apalagi ketika punya anak terus momong sendiri dari si anak lahir tanpa bantuan siapapun! Yaa.. butuh waktulah! Segitunya Alhamdulillah saya bisa sabar ngadepin anak dibanding situ main gaplok anak aje! Kondisi apapun saya selalu prinsip untuk tetap sabar dan tegas sama anak sesuai usianya. Kekerasan fisik juga hampir nggak pernah saya lakukan sama anak. Walopun suka senewen juga kalo Aliya lagi ngadat.

Lagian mau punya anak berapapun juga yang namanya sudah jadi full time mom dengan mengurus kerjaan rumah tangga plus anak sendirian pasti capeklah. Plis deh ah.. nggak pernah ngerasain nikmatinya jadi tuan putri yee n sakitnya saat kontraksi sebelum waktunya. Hiks. Untung saja cuma dia doang yang mulutnya pengen saya timpuk pake ulekan. Teman-teman saya yang lain plus tetangga yang lainnya Alhamdulillah pada ngedukung n support. Ayo Bunda Aliya inget ya jangan kerja berat-berat kalo butuh bantuan yaa bilang ke kita-kita. Alhamdulillah..

Saat hamil atau dalam kondisi down yang saya butuhkan itu dukungan dan empati tapi sayangnya nggak semua orang memahami itu. Untuk tekanan dari orang tua, seiring dengan berjalannya waktu akhirnya saya paham dan mengerti dan menerima. Yaa.. namanya anak tetap anak. Tetap saja ada rasa kangen. Dan kata ayah, saya nggak perlu meninggalkan masa lalu saya, karena mereka orang tua yang juga butuh disayang plus perhatian dari kita. Seandainya ada yang menyadari ketulusanmu, ayah uhuyyy.. Berdamai dengan diri sendiri dan menerima bagaimana pun orang tua kita itu lebih baik. Dan saya akui sekarang lagi kangen sama mereka. 😉

Bekasi, 7 Maret 2016

Bumil Lagi Ngidam

Salah satu yang paling asik dari kehamilan adalah ngidam. Dan salah satu yang paling melas saat hamil Aliya dulu adalah ngidam karena saat itu ngidam makan di KFC atau ngidam makanan yang agak mehong, gak bisa segera diwujudkan, harus nunggu gajian dulu. Soalnya waktu hamil Aliya kita itu banyak cicilan hutang yang harus dibayar setelah pernikahan plus abang2 kuliner di komplek masih gak serame sekarang. Ada sih, tapi rata2 rasanya gak sesuai dengan selera lidah kita. Sekarang mah apa aja ada. Dari mulai makanan tradisional sampe makanan mall, banyak di komplek. Saya kalo ngidam ini itu tinggal jalan ke depan. Gak terlalu repotin si Ayah. Asal jangan tengah malam. Kalo komen si mama mah itulah rejeki anak beda-beda.

Pertama ngidam hamil kedua itu saya ngidam jambu air yang di tanam di depan rumah. Untungnya sih waktu itu tuh jambu lagi panen, jadi saya tinggal nyuruh si ayah manjat pohonnya buat ngambilin tuh jambu. Kata tetangga, untung loe kagak ngidam duren yang ngambil langsung dari pohonnye. Saya bilang aja itu mah namenye ngajak ribut suami dodol! Hahahaha.

Mengenai pohon jambu, biarpun eikeh yang rawat, nyapu2in daun jambu yang jatuh tapi selama tinggal di situ yaa saya gak terlalu maruk banget kalo lagi panen. Malah lebih sering tetangga satu gang yang ngambilin buat rujakan atau buat main2 sekedar makan jambu di atas pohon. Anak2 sini apalagi, sering banget ngambilin. Tapi gak masalah sih wong itu pohon jambu posisinya ada di luar pager yaa.. jadi saya anggap siapa aja boleh nikmatin. Kalo saya pengen atau si Aliya pengen yaa tinggal minta barang lima buah sama orang yang barusan ngambilin jambunya.

Cuma kalo lagi panen jangan ditunggu sampe besok petiknya soalnya pasti tuh jambu sudah abis. Tinggal yang belum mateng hihihi. Kemarin pas lagi ngidam jambu itu aneh, saya ribut sama ayah minta buruan diambil yang lagi mateng. Pokoknya kudu saat itu juga dipetik tuh jambu. Pokoknya mata saya ini ijo banget liat jambu yang udah mateng. Kalo dipending, saya bakalan ngambek tapi gak sampe nangis sih. Sudah bertekad untuk hamil yang kedua mah gak mau cengeng lagi, dibawa happy n kuat aja. Pengalaman hamil pertama itu cengeng yaa.. yaa itu si Aliya sampe sekarang jadi rewel.

jambu

Ngidam kedua yaitu pengen rujak. Mungkin ini karena di bulan pertama kehamilan saya nggak bisa makan apa-apa kecuali buah. Jadi tiap siang menjelang Zuhur atau saat Aliya pulang sekolah, saya ke depan beli rujak. Itu hampir tiap hari beli rujak. Kecuali kalo dibeliin ayah buah apa gitu buat stock di rumah, saya nggak beli rujak lagi.

rujak

Saya pun pernah tetiba bangun terus pengen cheese cake. Waduh biar pun udah kebayang di tenggorokan tetap saya realities, kenapa? Karena toko yang jual cheese cake jauh banget dari rumah saya. Kalo saya lagi di Rempoa sih gampang tinggal nitip sama si kakak. Jadi sampe sekarang cheese cake itu belum kesampean dan gak pengen2 amat mengingat harganya juga mehong hihihi. Mending beli bakso atau apa gitu daripada cuma sekedar kue.

Dua malam saya pernah gelisah gak bisa tidur. Malam pertama ngidam nasi padang pake rendang. Pokoknya sepanjang malam itu aroma nasi padang plus rendangnya terus menggoda iman eh salah menggoda penciuman plus tenggorokan. Sampe saya bangunin si ayah tapi kata si ayah gak mungkin saat itu juga diturutin. Lah warung nasi padang mana yang buka tengah malam buta gini. Emangnya Mekdi, bisa 24 jam bukanya. Tapi besok siang saya langsung kalap ngeborong nasi padang beserta lauknya. Kan sekalian buat lauk di rumah. Cuma masih gak puas makan daging rendangnya. Yaudah langsung pesen daging sama si Yayuk sayur langganan buat besok masak. Soalnya mikir juga sih kalo masak itu kan bisa puas makannya n jatuhnya ekonomis plus bisa gado. Kan lagi gak begitu suka nasi. Masaknya yaa pake masker biar gak mabok.

Malam berikutnya saya tetiba pengen kebab dan itu sudah jam satu malam. Si ayah sampe kesel, soalnya tadi pulang kerja kan dia udah nawarin mau dibawain apa, saya malah nggak mau.

“Kenapa gak minta tadi sih, pas ayah pulang kerja kan ayah udah nanyak mau dibawain apa.”

“Yee kan tadi belum pengen.”Jawab saya.

“Terus sekarang mau beli dimana? Emang ada tukang kebab yang masih buka jam segini?”

Saya cuma menggeleng.

“Bunda itu kalo ngidam yang bener aja dong. Masa selalu tengah malam begini sih. Kalo bunda mau dibeliin paketan Mekdi sekarang mah ayuk ayah beliin, kan mekdi buka 24 jam. Lah ini kebab? Udah pada molor kali abang2 kebabnya. Udah ah tidur aja deh. Begini nih kalo bunda gak tidur-tidur. Bawaannya aneh2 ajah. Udah sekarang bunda tidur, besok baru ayah beliin kebab yang jumbo. Oke?”

Saya cuma manggut terus tarik selimut dan tidur. Daripada ntar diomelin ayah hihihi. Bener aja, besoknya si ayah bawain kebab yang jumbo buat saya n burger buat si Aliya. Dan setelah makan kebab, saya pun langsung molor karena kekenyangan hehehe…

Beberapa hari kemudian ada si Pita posting paketan Pizza Hut di pesbuk. Beuh detik itu juga aroma Pizza menyeruak ke hidung saya. Ngebayangin Pizza supersupreme dengan pinggiran sosis di penghujung bulan itu sungguh menyiksa.Berhari-hari napsu makan saya lenyap karena jackpot plus aroma pizza belum juga menghilang dari hidung. Si ayah minta saya bersabar untuk beberapa hari sampe dia gajian, baru diajak ke PHD. Itu si Pita terus ngeledek bikin eikeh jadi males pesbukan hahahaha.. Sama-sama bumil kan gak boleh begitu yaaak. #JitakPita

Benar aja di weekend awal bulan saya dibawa ayah ke PHD tapi sebelumnya mampir ke Mekdi dulu, si kakak udah ribut dari kemarin pengen ke Mekdi beli happy meal, soalnya hadiahnya mainan snoopy. Saya juga tahu dia itu pengen main perosotan juga di Mekdi. Makanan habis eh si Aliya langsung ngacir ke playground yang ada di Mekdi sementara saya bengong, gak tau harus ngapain, jadi langsung aja saya pesan es krim cone dua, buat ayah n saya. Eh ternyata saya ketagihan hahaha sampe ngabisin punya ayah.

es krim cone

Pulangnya langsung ke PHD, tapi ini neh jujur saya kecewa sama rasanya, gak terlalu enak. Kayaknya yang bikin lagi bête deh. Masa toppingnya acak kadul n rasanya sungguh mengecewakanlah. Lain kali ogah ke PHD lagi deh, kalo mau Pizza mending ke Rempoa dulu baru ngacir ke Bintaro Plaza, di sana Pizzanya masih enak n tampilannya masih rapih. Kok tahu? Kan suka dibawain Pizza sama si adek, n beberapa waktu lalu sempat sih makan di sana bertiga.

Eh tapi yaa ujung2nya tuh Pizza abis juga sih sama saya. Soalnya si Aliya ternyata gak doyan terus si ayah gak boleh ngambil banyak sama eikeh heuheuheu….

Pizza

Belakangan kan banyak tuh teman2 saya yang tinggal di Cirebon posting status dengan tema muludan yaa.. Eh tetiba aroma manisan pepaya warna-warni mampir ke hidung saya. Ya Allah pengen banget itu manisan. Mana gak ada yang jual lagi di Jabodetabek. Hiks.. Padahal pengen banget. Tapi itu manisan cuma di jual di Cirebon saat muludan aja, setahu saya sih gitu. Waktu kuliah dulu pernah ada yang jual manisan kayak gitu plus manisan ciremai di luar perayaan muludan, tapi itu di Tegal. Dulu waktu main-main ke Pantai Purin Tegal, saya beli itu manisan. Dan sekarang aduh bener-bener pengen.

Akhirnya saya BBM sahabat saya yang tinggal di Cirebon. Si Fy. Saya minta dikirimin itu manisan dan kawan-kawannya secara gratis. Atas nama ngidam hahaha. Ongkirnya juga wajib gratis. Hahaha. Alhamdulillah tuh manisan kemarin nyampe dengan selamat di rumah mama. Bonus dodol pula. Terima kasih banyak ya Fy, semoga berkah selalu rejekinya. Amin.

12369066_10207246430132973_6178875182999187197_nmanisan

Pokoknya hamil sekarang ini kalo soal ngidam Alhamdulillah hampir semuanya kesampaian. Rejeki anak itu emang beda2 ya.

Rempoa, Desember 2015

Trilogi The Rain

Band ini saya kenal sejak album pertama dengan single Dengar Bisikku. Waktu itu saya masih SMA dan beberapa lagu di album pertama itu termasuk lagu kebangsaan galau saya kala itu huhuhu… Sebenarnya saat itu nggak gitu ngefans juga cuma seneng aja denger lagunya, liriknya dalam gitu. Kayak lagu judul Terima Kasih Karena Kau Mencintaiku sama Dan Bila Kau Telah Pergi Dariku. Sebenarnya dulu yang bikin saya akhirnya beli kasetnya adalah cover dan judul album pertama itu loh yaitu Hujan Kali Ini. Saya kan suka sama yang hujan-hujanan hehehe… Terlebih lagi ini band dari Yogja. Saya kan obsesi banget sama kota tersebut, sayang dapat jodohnya bukan dari kota itu heuheu… Oiya satu lagi vokalis band ini suaranya agak2 mirip sama Duta SO7.

Setelah itu sampe saya kuliah ada lagu yang bikin saya menarik, yaitu Tolong Aku. Lupa itu album ke berapa, yang jelas saya akhirnya beli kasetnya karena lirik lagu tersebut lumayan dalam dan saat itu lagi mengalami hal yang persis sama lagu itu. Tentang orang yang lagi patah hati terus curhat gitu deh ke sahabatnya. Saat itu kayaknya saya lagi galau sama si mantan yang kuliah di Yogja deh. Ah sudahlah itu masa lalu. Soalnya kalo dikenang jadi baper, nyesek, dan rasanya malu sendiri halah. Iya, kok bisa ya saya sebegitu….. ah sudahlah :p

Sampai suatu hari, kalo gak salah saat lebaran kemarin di mobil si Kak Ijul nyetel radio yang kebetulan lagi bagian lagu Terlatih Patah Hati. Ih kok lucu banget ini lirik lagunya. Menggenaskan tapi ceria kayak menertawakan diri sendiri yang patah hati melulu (ini mah gue banget waktu masih single). Padahal mah saat itu saya sudah ada ayah dan Aliya hihihi tapi lucu n imut ini lagu halah. Siapa yang nyanyi? Tanya saya sama si Kak Ijul, itu The Rain sama Endang Soekamt. Wew The Rain masih eksis toh hihihi.

Saya langsung nonton VCnya di Youtube. Keren n lucu banget VCnya. Pokoknya nonton aja deh VCnya. Tuh sudah saya copast linknya ke Youtube. Nontonnya selalu berdua Aliya soalnya dia juga ngakak liatnya terus suka niru2in gaya modelnya. Memang paling miris menertawakan diri sendiri yaa tapi seru n bikin lucu sendiri. Saking senengnya sama VC ini eh dia sampe hapal lagunya hahaha. Si ayah sempat bengong denger kita berdua nyanyi lagu ini sambil joget2 gaje di rumah.

Ini The Rain tumben2an yaa bikin lagu ngebeat begini plus suka sama ekspresi vokalisnya dalam VC ini soalnya si vokalis kan biasanya nyanyi lagu galau gitu ternyata lucu juga yaa kalo disuruh nyanyi lagu unyu kayak gini. Dan sejak itu saya demen sama ini vokalis hahaha. Saking demennya, saya sempet nonton konser2 The Rain di youtube.

Setiap nonton youtube saya juga pasti baca komen2 netizen yang ikutan nonton juga ya di youtube. Adalah salah satu komen yang bikin saya terpaku adalah band ini lagunya gak booming2 amat tapi kebanyakan orang pasti tahulah lagunya. Mungkin kalo ada grafik, perjalanan karir mereka itu lempeng di garis itu2 aja (sotoy). Nongol di infotaimen juga jarang yaa.. kurang diekspos gitu. Bahkan sampe sekarang saya juga gak tahu tuh sama masing2 nama personilnya hehehe. Tapi mereka itu konsekuensi di jalur musik. Hampir tiap tahun kayaknya terbitin single. Dalam hati bener juga yaa..

Terus ternyata lagu Terlatih Patah Hati adalah awal dari trilogi mereka. Lagu ini bersambung ke lagu Gagal Bersembunyi. Lagunya bener-bener bikin baper dan gegara lagu ini saya jadi menulis Tentang Key plus cerbung HannaReyhan yang gak tahu kapan endingnya padahal beberapa teman saya ada yang suruh secepatnya dibikin ending, cuma dasar sayanya aja yang sok sibuk alias malas. Malah lebih suka nulis blog :p

Lagu ini menceritakan orang yang gagal move on. VC lagu ini menurut saya mah terlalu maksa walau maksudnya adalah menertawakan diri sendiri dalam sudut pandang cewek tapi kok yaa.. emang maksa hihihi. Selebihnya keren kok. Buktinya liriknya jadi inspirasi saya untuk menulis lagi walau belum selesai hehehe. Terus sepenggal liriknya sempat dijadikan meme atau pic bagi orang-orang galau masa kini halah.

“Kau tahu aku merelakanmu. Aku cuma rindu. Itu saja”

Kira2 kalimat itulah yang sempat dijadikan meme sama sebagian netizen. Tapi yaa.. jujur memang dalam sih liriknya.

Nah di penghujung tahun ini si The Rain mengeluarkan ending dari Triloginya yaitu Penawar Letih. Lagunya menceritakan tentang seorang ayah atau suami yang pergi subuh n pulang malam buat cari nafkah. Pokoknya ayah banget deh lagunya hehe. Pengen gitu lagu ini di share ke ayah buat saya hahahaha ngarep :p dia kan gak suka The Rain.

Setting VCnya di KA Commuter Line. Cuma ekspresi beberapa orang yang tiap hari naik kereta. Udah gitu aja. Sederhana banget ya dan agak ngebosenin VCnya tapi idenya itu loh gokil n agak nyerempet idealis hahaha sotoy nih gue. Mungkin bagi pengguna KA Commuter Line sehari-hari, VC kali ini menggambarkan perasaan mereka. Ya.. seperti itulah. Dan nonton ini bikin saya jadi merasa bersyukur kalo ayah kerja gak perlu naik kereta sejauh itu, desak2an, plus gak perlu berangkat subuh. Cukup naik motor 30 menit dan sampe deh. Jadi sayanya juga di rumah gak terlalu cemas2 banget.

Jadi inti dari trilogi The Rain ini bisa menjadi cerita bersambung tersendiri loh dengan happy ending. Dari yang awalnya patah hati melulu mungkin yang terakhit ditinggal kawin hehehe.. sampe gak bisa move on dan akhirnya bisa menikah juga n memiliki Penawar Letih. Keren kan? Ini trilogi yaa kayak perjalanan cinta eikeh sampe akhirnya bisa merit n sekarang udah mau punya dua anak hihihi.. Eh tapi saya belum pernah ditinggal kawin yee :p

Pokoknya untuk trilogi mereka kali ini saya memberikan nilai 90 untuk The Rain. Keren deh idenya dan lebih dari itu konsekuensi mereka di jalur musik tetap bisa menjadi contoh yang baik. Semoga ke depannya mereka bisa bikin lagu lebih bagus lagi dan tambah sukses dari sekarang.

Kehamilan Kedua (LatePost)

testpack

Gue hamil? Iye, gue hamil untuk yang kedua kalinye sodara-sodara. Aliya bakal punya adek, punya temen buat ngerjain emaknye, n punya temen buat berantem di rumah, dan rumah kita bakal makin rame bin seru! Okeh sip! Ini diluar perkiraan n planning eikeh sama si ayah huhuhu… Gila kan yaa di saat ekonomi rumah tangga masih belum jelas-jelas amat masa depannya dan gue malah tek dung tralala. Planning kita itu bakal punya anak lagi kalo udah punya rumah atau minimal kalo Aliya udah SD.

Tapi gue seneng, gue bahagia, lebih bahagia dari kehamilan pertama hihihi, terus si Aliya juga seneng banget karena doanya terkabul. Iye, doa seorang anak yang mupeng banget punya adek itu akan segera terkabul dan garis dua strip di test pack itu adalah kado ulang tahun buat Aliya dari Allah. Alhamdulillah. Sementara si ayah malah bingung, panik, n stress huahahaha… #KetawaSetan.  Secara dia sampe sekarang masih truma ngadepin gue lahiran.

“Ayah seneng nggak?” Tanya saya iseng.

“Nggak!” Jawabnya jutek.

Langsung pasang muka cemberut n ngambek.

“Yee.. bukan nggak seneng gimana-gimana. Ayah bakal seneng ntar kalo si baby udah keluar. Kalo sekarang sejujurnya, AYAH PANIK TAUK!” Katanya jujur.

“Heu? Kenapa panik?”

“Pertama yaa karena ayah harus masuk ke ruang bersalin lagi n liat bunda yang kesakitan itu… kan nggak tega tauk! Apalagi nanti kalo bunda brojol, Aliya sama siapa cobak?”

“Sama tetangga!” Kata saya asal.

“Enak aja. Mending dia mau dititipin sama tetangga. Dia kan nempelnya kalo nggak sama emaknye yaa babehnye. Sama orang lain yaa mana mau.” Jelas ayah.

Tunggu, tunggu si ayah bisa juga yaa ngomong pake logat betawi. Dia kan orang jawa tulen. Medok banget. Ah.. tetap aja logat betawinya gak nendang hihihi.. eh kok jadi OOT yaaa hihihi…

“Sama Umi. Dia pasti mau tuh atau sama… aahh paling nih anak diungsiin dulu ke Rempoa.”

“Hu… mana mau! Udahlah liat aja nanti. Pusing tau. Udah yang penting sekarang bunda wajib jaga kesehatan. Wajib makan yang sehat dan nggak boleh minum minuman kemasan kecuali susu. Dan balik lagi kontrol di Bidan Yumi.”

Mendadak saya ngeri denger kata terakhir. Ih bidannya kan galak waktu saya brojolin Aliya. Tapi oke saya akui kalo tuh bidan emang cerdas banget. Pro kelahiran normal dengan biaya murah meriah! Soalnya kemarin itu Aliya kelilit tali puser tapi bisa normal lahirnya. Cuma ini bidan hobi banget sama induksi hiks. Mampus dah gue. Tiba-tiba ngebayanginnya langsung mabok! Tapi seperti kata teman dekat eikeh bahwa kata suami itu bisa jadi suatu doa buat keselamatan istrinya, lalu teman saya menyarankan untuk tetap nurut sama kata Ayah bahwa saya harus ketemu Bidan Yumi lagi tiap bulan. Okeh sip. Kalo udah diingetin untuk manut sama suami, yaa saya bisa apa. Kan ceritanya saya mau jadi istri sholehah gitu loh yang terus manut sama apa kata suami, selama itu di jalan kebaikan dan di jalan Allah. Tsah… emaknye Aliya mendadak bijak gini heuheuheu.

Padahal si ayah loh yang pertama kali sadar kalo saya lagi tek dung! Ini gara-gara si Aliya belakangan kayak musuh banget sama ayah. Pengennya diurus sama bundanya n nempel terus sama bunda. Rewel sih nggak cuma yaa itu saya nggak boleh hilang dari pandangannya. Nah kalo sama si ayah cenderung gualak banget. Ayahnya dijutekin abis sama dia. Memang sih saya merasa kalo belakangan juga kondisi saya cepat capek n lemes terus tapi nggak pernah kepikiran kalo lagi tek dung tralala! Dan jujur belakangan merasa asam lambung lagi kumat cuma mungkin maag saya lagi kumat.

Sampai suatu malam saya mengeluhkan sikap nempel Aliya sama saya. Kalo terus begini saya juga yang rempong. Nggak bisa berbagi tugas momong anak sama si Ayah. Terus ayah nyeletuk begini.

“Bunda lagi ngisi kali. Udah telat berapa hari?”

“Ngisi dari hongkong! Baru juga telat… eh aku udah telat seminggu!” Mendadak panik.

Huaa…. malam itu juga saya curhat sama si Mak Anita. Temen deket eikeh di BBM. Kayaknya gue tekdung nih huaaa… dan.. perasaan itu kuat banget! Si ayah besok malamnya pulang beneran bawa test pack. Bukannya bawain martabak atau kwetiau yak eh malah bawain test pack. Niat banget sih pengen istrinye hamil!

“Bukannya gitu lebih cepat tau yaa lebih baik.”Begitulah alasan ayah.

Bener juga sih.. Dan… jreng.. jreng.. jreng.. hasilnya emang positif sodara-sodara. Gue kejer di kamar mandi panggil si ayah. Aliya juga panik denger emaknye ngejerit!

“Kenapa bun?” Tanya mereka bersamaan pas udah nyamperin eikeh ke kamar mandi.

“Dua garis.”Jawab saya lemes lalu mabok seketika!

“Huaaaaaa!!!!!”Jerit ayah.

Si Aliya bengong!

Dan sejak itu perubahan dratis terjadi di dalam rumah ini. Saya mendadak kehilangan selera napsu makan, sesekali mabok, nggak suka masak. Ayah, makin sering ingetin saya makan plus sibuk urus Aliya, sementara Aliya malah sibuk nanyak kapan adiknya lahir kan perut bunda udah gendut. Hey, nak ini perut gendut bukan karena adik bayi udah besar di perut tapi karena lemak! Selain itu Aliya juga sibuk ngajakin ngomong calon adiknya ini sambil elus2 perut saya. Kondisi rumah pun lebih sering acak kadul daripada rapihnya hihihi….

Pokoknya kehamilan yang kedua ini sejujurnya saya merasa lebih bahagia, lebih siap menghadapi kemungkinan yang terjadi nanti, dan lebih menjaga apa yang masuk ke perut. Apapun kondisinya saya bersyukur karena di saat beberapa orang di sekitar saya mengalami kesulitan untuk hamil, saya justru diberi kepercayaan lagi sama Allah untuk menjadi ibu bagi dua anak. Alhamdulillah…

November, 2015 Menjelang ulang tahun Aliya

Catatan Kecil Menjelang Usia Ke Empat

empat20140405_180401

Kemarin dapat laporan dari Uminya Aliya di sekolah. Katanya ada satu buku latihan yang diganti. Itu buku TK A. Jadi buku latihan menulis angka untuk anak Paud punya Aliya sudah habis padahal teman-temannya masih banyak yang belum dikerjakan. Ah anak itu kalau sudah menulis apapun saja, susah berhentinya. Saya sudah hapal sama Aliya. Iyalah, sayakan ibunya hehehe. Padahal, kata Uminya lagi, itu buku sudah dihapus untuk kemudian dikerjakan lagi sama Aliya tapi kemarin Aliya malah protes, bilang begini

“Umi, aku nggak mau kerjain yang ini lagi. Kan udah aku kerjain tuh sampe abis. Ganti dong bukunya.” Pinta Aliya.

Akhirnya Umi pun mengganti buku Aliya dengan buku latihan menulis angka untuk anak TK A. Untuk pembayaran bukunya boleh bulan depan. Saya memutuskan untuk bayar bulan depan sekalian bayar seragam olah raga juga hihihi. Maklum tanggung bulan. Memang ya kalau anak sudah masuk sekolah harus siap-siap dana cadangan. Banyak dana pendidikan yang tiba-tiba wajib keluar demi keberlangsungan proses belajar mengajar. Tidak, saya tidak protes sama pihak sekolah tentang dana yang harus dikeluarkan tiba-tiba, karena saya juga menitipkan anak di sekolah untuk dididik menjadi manusia yang berakhlak dan bermanfaat. Saya juga pernah jadi guru jadi bisa memahami apapun kebijakan sekolah. Insya Allah.

Saya bahagia dan bangga Aliya belum empat tahun tapi punya semangat untuk terus belajar. Belajar dengan caranya sendiri. Saya tidak pernah memaksanya untuk masuk sekolah apalagi mengerjakan PR. Hanya menawarkan dan mengingatkan saja kalau PRnya belum dikerjakan. Perkara dia mau mengerjakan atau tidak, yaa terserah dia. Belakangan memang anaknya lagi nggak mau kerjain PR. Dia lebih asik menulis dan main bongkar pasang. Tapi kadang saat menjelang tidur, Aliya malah mau bikin PR heuheuheu… Anak pinter. Modusnya itu loh biar nggak disuruh tidur :p

Tiba-tiba saja terbesit keinginan saya untuk meminta sama Umi biar semester depan Aliya dinaikin ke TK A aja kan usianya juga sudah 4 tahun. Tapi nggak tahu Uminya setuju apa nggak dengan permintaan saya. Hanya saja saya ditegur sama mama. Biarkan berjalan apa adanya. Sesuai usia dan kematangannya. Makanya pengen konsul banyak nih ke Umi. Obsesi emak yee nggak bisa dihalangi. Tapi sekali lagi saya akan terima seandainya Umi nggak setuju dengan usul saya. Sekali lagi, ini tentang kematangan bukan sekedar obsesi emak.

Dulu seusia Aliya, saya belum sekolah, belum tahu huruf. Masih hobi bikin rusuh rumah dan guntingin apa yang menarik untuk digunting termasuk rambut sendiri. Dulu seusia Aliya, saya juga hobi dimarahin mama dan bolak-balik ke dokter karena saya sakit-sakitan. Sekarang Aliya beruntung punya emak yang lebih sabar n jarang marah-marah, membebaskan Aliya mau ngapain aja di rumah asal nggak bahaya, bebas main air di waktu libur sekolahnya, dan sudah bisa mengerti bahwa bunda nggak ada yang bantuin jadi setiap main Aliya dengan kesadarannya membereskan mainannya sendiri. Alhamdulillah sampai sekarang Aliya tumbuh dengan sehat, kalaupun sakit juga cukup dikasih obat yang distok bunda dan sembuh.

Walau masih cengeng dan rewel, kadang saya sampai dipukul dan dilemparin mainan kalau ada keinginannya yang nggak bisa saya penuhi tapi dia nggak pelit sama teman-temannya. Selalu berbagi, selalu menawarkan apa yang dia punya. Satu hal, dia belum berani untuk minta maaf kalau dia melakukan kesalahan. Ini yang sedang saya tanamkan. Sulit. Aliya pemalu dan suka gengsi.

Aliya itu sosok anak yang kuat. Kenapa? Suatu hari dia cerita kalau kejedut di sekolah sama temannya. Saya mendengarkan sambil lalu saja. Tapi ketika saya sedang keramasin rambutnya, Aliya tiba-tiba ribut sakit di kepala.

“Aku kebenjolan bun. Kan tadi aku bilang kalau aku abis kejedut sama teman aku.” Ucapnya.

Ya Allah saya kurang peka. Hiks maaf ya. Saat saya periksa, benar ada bagian yang benjol di kepala.

“Sakit nggak?” tanya saya.

“Sakit bun. Makanya jangan dikeramasin bagian yang ini ya.” Pintanya.

Saya pun mengangguk. “Yaudah abis mandi nanti pake minya tawon ya, Kak. Eh tapi pas kebenjolan tadi di sekolah, kakak nangis nggak?”

“Nggak. Aku sama temen malah ketawa hahaha.”

Mendengarnya saya merasa makin bersalah. Mungkin terlalu lebay tapi perasaan itulah yang saya rasakan ketika Aliya menertawakan kejadiannya. Soalnya kalau di rumah dia kebenjolan gitu, pasti nangis kejer.

“Maaf ya bunda nggak tau.”

“Nggak apa-apa.” Jawabnya dewasa.

Saya tersenyum dan diam-diam menitikan air mata. Ah nak ternyata nggak terasa kamu memang akan beranjak besar dan menjadi pribadi yang entah bagaimana. Yang pasti bunda selalu berdoa biar kamu menjadi anak sholehah, dewasa, bermanfaat bagi orang banyak, berakhlak mulia. Kamu kebanggaan kami, nak. Ayah dan bunda. Rasa sayang kami nggak akan pernah habis sampai kapan pun. Walau bagaimana pun kamu kelak, nak tetaplah menjadi kesayangan kami.

Beberapa hari lagi Ayah ulang tahun yang ke 41, usia yang tak lagi muda nak tapi cukup matang untuk menjaga kami dan terus menjadi iman kamu lalu bulan depan kamu akan berusia 4 tahun, usia yang masih terlalu sebentar untuk hidup. Bunda berharap kamu akan tetap ada di dunia ini selama mungkin, mewarnai kehidupan kami dengan apa-apa yang ada pada dirimu. Allah, terima kasih atas Aliya. Hanya itu yang bisa saya ucapkan. Tentu saja saya nggak berhenti berdoa untuk kebaikan keluarga kecil kami.